BANJARBARU - Tahun depan investor mulai ramai menanamkan modalnya di Banua, ada sejumlah investasi senilai triliunan rupiah yang direncanakan masuk di daerah ini.

Pemprov Kalsel mencatat, investasi yang akan masuk di antaranya pengembangan smelter bijih besi dari Jhonlin Group di Kotabaru dengan nilai Rp2 triliun.

Kemudian, PT Enam Sembilan yang berencana mendirikan fasilitas gasifikasi untuk konservasi batu bara seperti dimethyl ether (DME) bekerja sama dengan Air Products & Chemicals dengan total investasi Rp210 triliun tersebar di Kalimantan, Sumatera, Maluku, dan Papua.

Juga ada dari PT Kalimantan Refinery Petrochemical yang akan membangun kilang minyak di Kotabaru, dengan nilai investasi mencapai Rp309 triliun.

Lalu, PT Pelsart Tambang Kencana berencana melakukan tambang emas di Kecamatan Sungai Durian, Kotabaru. Serta, PT Qinfa Mining Industry yang ingin membangun tambang bawah tanah (underground mining) di Kecamatan Sungai Durian, Kelumpang Barat dan Kelumpang Hulu.

Banyaknya investor yang akan masuk di Banua menurut Sekdaprov Kalsel, Roy Rizali Anwar, karena Kalsel berkomitmen menyiapkan karpet merah bagi setiap pengusaha yang akan berinvestasi.

"Kami berharap investor luar negeri maupun dalam negeri bisa berinvetasi di Kalsel, Pemprov Kalsel akan menyiapkan karpet merah dengan mempermudah perizinan dan menyiapkan infrastruktur pendukung," ucapnya.

Menurutnya, ada beberapa strategi yang dijalankan Pemprov Kalsel dalam meningkatkan investasi di Banua. Diantaranya, perbaikan kemudahan berusaha, eksekusi realiasi investasi besar dan mendorong investasi besar bermitra dengan pengusaha nasional di daerah proyek.

"Serta mendorong peningkatan invetasi dalam negeri, khususnya UMKM. Lalu melakukan penyebaran investasi berkualitas dan promosi investasi," ujarnya.

Dia mengemukakan bahwa pada 2021 investasi di Kalsel menunjukan kebangkitan yang sangat menjanjikan. Karena pada triwulan ketiga mampu mencapai Rp4,20 triliun. "Nilai investasi ini naik sebesar 214,85 persen dibandingkan dengan triwulan ketiga tahun 2020 yang saat itu cuma Rp1,33 triliun," paparnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Prov Kalsel Amanlison Sembiring mengatakan, di tren ekonomi hijau Kalimantan memiliki banyak peluang investasi.

Menurutnya, potensi investasi pada tahun mendatang dapat diarahkan kepada industri peningkatan nilai tambah untuk sektor-sektor berbasis SDA ekstraktif.

"Upaya transformasi struktural perlu didorong melalui peningkatan hilirisasi batubara upgrading coal to methanol, hilirisasi sawit (oleopangan dan oleokimia), hilirasi karet (industri ban)," katanya.

Amanlison menuturkan, sinergi dan kolaborasi BI bersama stakeholders terkait dalam promosi investasi melalui Regional Investor Relation Unit (RIRU) akan terus diperkuat untuk meningkatkan investasi di Kalsel. (ris/by/ran)