BANJARMASIN - Lambannya pekerjaan Jalan Liang Anggang-Bati-Bati disorot DPRD Kalsel. Komisi III DPRD Kalsel yang membidangi infrastruktur meminta kontraktor bekerja profesional.

Ketua Komisi III DPRD Kalsel Sahrujani menyayangkan akses jalan vital ini mengalami keterlambatan pekerjaan hingga menyusahkan warga. “Tak hanya kasihan warga sekitar, bagi pelaku usaha yang membawa kebutuhan pokok pun terdampak. Ini menjadi atensi kami,” tegasnya kemarin.

Akses jalan ini sendiri sebagai penghubung Kabupaten Tanah Laut, Banjarbaru hingga Tanah Bumbu dan Kotabaru. Dengan kondisi sekarang, praktis angkutan barang lewat darat pun terganggu. Bahkan, demi pekerjaan, khusus kendaraan roda 6 ke atas, mereka dilarang melintas.

Akhirnya, mereka pun harus mencari jalan alternatif. Yakni melalui Jalan Cempaka Banjarbaru. Jaraknya pun lebih jauh. Sekitar 20 Km. Tak hanya bagi angkutan besar. Kendaraan roda 4 maupun roda 2 yang tak ingin nekat, terpaksa memilih jalan ini atau Jalan Tembus Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar.

Kejadian amblas hingga angkutan terbalik sudah pernah terjadi di lokasi ini. Untungnya tak sampai menelan korban jiwa. “Kami terus memonitor. Baru-baru tadi sudah kami tanyakan ke Balai Pelaksana Jalan Nasional Banjarmasin,” terang Sahrujani.

Disampaikannya, pihak balai jalan menerangkan, keterlambatan pekerjaan ini lantaran pada saat awal pekerjaan, polanya tak pas dengan kondisi di lapangan. “Dari keterangan balai, setelah dilakukan pola lain. Pekerjaan terhambat karena cuaca. Saya juga sempat bertanya kenapa pola belum ditetapkan secara teknis. Menurut mereka (balai), pada saat pekerjaan dilakukan pengkajian,” jelasnya.

Pola pekerjaan yang salah di awal ini artinya tak hanya disalahkan pihak kontraktor. Namun perlu dipertanyakan konsultan proyek yang sejak awal menyusun rencana tahapan pekerjaan. Sahrujani sendiri pesimis pekerjaan akan tuntas sampai akhir tahun nanti sesuai kontrak kerja.

Dia meminta, kontraktor bekerja profesional meski nantinya bekerja dalam masa denda atau penalti. “Ini konsekuensinya. Jangan ditinggalkan yang dampaknya malah merugikan lebih banyak lagi masyarakat,” ucapnya.

Jika kontraktor lepas tangan, bukan tak mungkin pekerjaan ini akan dilelangkan kembali. Itu artinya akan membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk menyelesaikan jalan ini. “Kalau juga tak bisa selesai tepat waktu sampai kontrak habis, dan diberi tenggang waktu di masa penalti, kontraktor harus tetap menggunakan waktu dengan maksimal demi mempermudah warga,” tekannya.

Menelan anggaran sebesar Rp74 miliar, penanganan ruas jalan ini terbagi dua paket pekerjaan. Paket pertama atau seksi I adalah, pekerjaan rehabilitasi Jalan Simpang Liang Anggang sampai Batas Kota Pelaihari dengan panjang mencapai 3,52 Km. Sedangkan seksi II adalah pekerjaan rehabilitasi Jalan Simpang Liang Anggang sampai Batas Kota Pelaihari dan Batas Pelaihari sampai pertigaan Bati-Bati hingga Jalan Benua Raya, Bati-Bati. Panjang jalan yang ditangani mencapai 2,7 Km.

Dari data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dua pekerjaan ini dimenangkan oleh kontraktor luar Kalimantan. Jika seksi I dimenangkan oleh PT Anugerah Karya Agra Sentosa yang beralamat di Jalan Besar Ijen Malang, Jawa Timur, sementara seksi II dimenangkan oleh PT Nugroho Lestari yang beralamat di Jalan Ciliwung Malang, Jawa Timur.

Menurut Sahrujani, dia tak mempersoalkan darimana pemenang lelang pekerjaan jalan ini. Namun, yang perlu diperhatikan adalah, bagaimana keprofesionalan mereka dalam menuntaskan pekerjaan. “Masyarakat tak ambil pusing, yang penting jalan sudah nyaman dan tak menyusahkan mereka,” tandasnya.

Di sisi lain, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Kalsel (Satker PJN Wilayah I Kalsel) Budianto menyampaikan, kontrak kerja masih mengacu sampai akhir tahun mendatang. Atau tak ada adendum pekerjaan baru. “Kalau tak selesai di akhir tahun. Maka akan bekerja di masa denda,” tegas Budi.

Menurutnya, penyedia jasa masih komitmen menuntaskan pekerjaan ini sampai selesai sesuai spesifikasi pekerjaan. “Mereka masih komitmen untuk menuntaskan. Kondisi ini hanya karena terkendala hujan dan ada kerja yang kurang efektif saja,” ujarnya.

Seperti diketahui, pekerjaan jalan ini progresnya masih 50 persen. Sementara, kontrak kerja harus sudah tuntas tahun ini yang tersisa hitungan hari. Melihat kondisi yang ada, pekerjaan terancam tak selesai tepat waktu. (mof/ran/ema)