Simulasi pembukaan Pasar Terapung memasuki pekan keempat. Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina memberi sinyal agar objek wisata itu segera dibuka. Tentu dengan beberapa catatan.

***

BANJARMASIN - Akhir pekan kemarin (12/12), Siring Pierre Tendean tampak ramai. Pengunjung yang hendak masuk wajib mengenakan masker. Mencuci tangan dan mengecek suhu tubuh.

Hanya itu syaratnya untuk memasuki dermaga Pasar Terapung. Tak seketat seperti pada uji coba pertama.
Sebelumnya, petugas mewajibkan pengunjung memindai kode batang yang disediakan lewat aplikasi Peduli Lindungi. Guna mengetahui riwayat perjalanan pengunjung, dari zona merah atau hijau. Serta mengetahui sudah divaksin atau belum.

Nah, ketiadaan pemakaian aplikasi milik Kementerian Kesehatan itu ternyata dicermati wali kota. Dia meminta pemindaian jangan dihentikan. Demi keamanan pedagang, pengunjung siring dan petugas jaga.

"Siapa pun yang masuk kemari harus diingatkan petugas: pakai aplikasi Peduli Lindungi. Baik saat masuk maupun ke luar," tegas Ibnu.

Ini juga demi memudahkan pendataan, seberapa banyak pengunjung yang datang ke siring.

Catatan lain, pengunjung siring harus diberikan edukasi tentang vaksinasi. Sekalipun cakupan vaksinasi di ibu kota Kalimantan Selatan ini sudah mencapai 71 persen.

"Ini kesempatan untuk menjaring yang belum divaksin. Sampai akhir tahun, semoga target 75 sampai 80 persen vaksinasi bisa tercapai."

"Antusias pengunjung, saya kira tak diragukan lagi. Tapi secara keseluruhan, perhatikan pengaturan prokesnya. Itu saja catatan dari saya," tambahnya.

Disinggung terkait permintaan pedagang Pasar Terapung agar boleh berdagang sampai jam 12 siang, menurut Ibnu, fleksibel saja.

"Yang paling penting adalah penggunaan barcode ketika masuk dan keluar objek wisata. Dan para pedagang juga harus menjaga prokesnya," tekannya.

Lantas, apakah Pasar Terapung sudah bisa dibuka? Menjawab itu, Ibnu mengaku harus mengevaluasi hasil uji coba selama ini.

"Namun, sepertinya bisa saja diteruskan. Mudah-mudahan pekan depan bisa. Seiring kebijakan pusat yang tak lagi memberlakukan PPKM level 3 di momen Nataru," jelasnya.

"Untuk Pasar Terapung, pada momen Nataru diizinkan. Kalau siring, cuma boleh untuk berolahraga. Ini penting untuk membangkitkan perekonomian kota," tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin, Ikhsan Alhak menyebut, meskipun baru uji coba, terjadi peningkatan jumlah pengunjung dari pekan ke pekan.

"Pekan pertama dan kedua sebanyak 2.050 orang. Kemudian pekan ketiga sebanyak 3.500 orang. Hari ini masih kami hitung-hitung. Tapi kalau dilihat, memang lebih banyak," bebernya.

Perihal permintaan wali kota agar penggunaan aplikasi Peduli Lindungi tak disetop, Ikhsan berjanji akan mengurusnya. "Terus terang, kami sebagai pengelola siring tak memiliki fasilitas untuk aplikasi itu," akunya.

Soal lain, apakah siring akan ditutup atau dibuka selama perayaan malam pergantian tahun, Ikhsan mengaku harus berkoordinasi dengan Satgas COVID-19 Banjarmasin dahulu. Mengingat adanya potensi kerumunan pada momen tersebut.

"Ada beberapa opsi. Salah satunya, tidak ditutup, tapi dibuka dengan pengetatan," pungkasnya. (war/fud)