BANJARMASIN - Pemerintah pusat memulai vaksinasi anak usia 6-11 tahun. Hanya 115 kabupaten dan kota yang dianggap memenuhi syarat. Dan Banjarmasin tidak termasuk.

Mengacu Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2021, ada dua syarat yang harus dipenuhi pemerintah daerah untuk melaksanakan program vaksinasi anak.

Pertama, minimal vaksinasi penduduk sudah mencapai 70 persen untuk dosis pertama. Kedua, 60 persen warga lanjut usia yang ditarget sudah mendapat vaksin dosis pertama.

Ibu kota Kalimantan Selatan ini hanya lolos syarat pertama dengan cakupan vaksinasi 71,64 persen.

Mengacu data Dinas Kesehatan Banjarmasin per tanggal 12 Desember, capaian vaksinasi lansia untuk dosis pertama baru menyentuh angka 37,72 persen.

"Jadi belum bisa. Ditunda dulu karena syaratnya memang demikian," ungkap Kepala Dinkes Banjarmasin, Machli Riyadi, Minggu (13/12) malam.

Data yang dihimpun Radar Banjarmasin, vaksinasi lansia memang berjalan lamban. Bahkan terkesan jalan di tempat.

Contoh, awal Oktober, vaksinasi lansia mencapai 25,24 persen. Pada akhir bulan, hanya naik 4 persen.

Namun, Machli enggan disalahkan. Menurutnya, masalah ini juga terjadi di kota-kota lain. "Dari 416 kabupaten dan kota di Indonesia, hanya 155 yang memenuhi syarat. Artinya tak hanya terjadi Banjarmasin, ini sudah menjadi persoalan nasional," tegasnya.

Soal kendala, Machli menyinggung pola pikir yang salah. Bahwa bagi lansia, divaksin atau tidak, toh mereka sebentar lagi meninggal dunia.

Komorbid atau penyakit bawaan juga menunda banyak lansia untuk memperoleh suntikan vaksin.

"Kendala tambahan adalah banjir rob. Tenaga kesehatan kesulitan menjangkau rumah para lansia," ungkapnya.

"Pelayanan kesehatan juga diarahkan untuk mencegah penyakit yang mengiringi banjir. Misalkan dermatitis (peradangan kulit)," sebutnya.

Sekarang, Machli hanya bisa berharap, pusat bersedia menurunkan persyaratan program vaksinasi anak. Taruhlah, cukup di angka 30 persen saja untuk vaksinasi lansia.

Lebih jauh, Machli pun lantas mengatakan, agar program vaksinasi anak bisa dijalankan di Kota Banjarmasin, ia mengharap keringanan persyaratan dari pemerintah pusat.

Misalnya, dengan menurunkan atau memberikan kelonggaran persyaratan minimal vaksinasi lansia hanya berada di angka 30 saja.

"Kami menunggu kelonggaran. Targetnya jangan 60 persen, mungkin 30 persen saja. Sehingga kami juga bisa memulai vaksinasi anak," tutup Juru Bicara Satgas COVID-19 Banjarmasin tersebut.

Sembari menunggu kelonggaran itu, ada baiknya Dinkes fokus ke edukasi. Sebab, tak semua orang tua berkenan anaknya divaksin.

Contoh Arul yang masih ragu. "Rentang usianya terlalu dini. Saya masih tak tahu, seperti apa efek samping vaksin kepada anak-anak. Saya masih khawatir dengan kejadian ikutan pasca imunisasi," tutur warga Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur tersebut.

Senada dengan Marini. Dia mendukung program vaksinasi, tapi untuk orang dewasa, bukan untuk anak kecil.
"Bagi saya, sebaiknya selesaikan dulu sepenuhnya program vaksinasi orang dewasa, baru berpindah ke anak-anak," pintanya.

Perlu diketahui, vaksinasi anak ini dipercepat mengingat ancaman Omicron. Mutasi COVID-19 yang dilaporkan lebih menular dari varian Delta. (war/fud)