BANJARBARU - Puluhan orang meninggal dunia dan belasan lainnya masih hilang dalam insiden tenggelamnya kapal yang mengangkut TKI ilegal di perairan Johor Bahru, Malaysia pada Rabu (15/12). Beruntung, tidak ada TKI asal Kalimantan Selatan yang ikut serta di dalam kapal nahas tersebut.

Meski begitu, berangkat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) secara ilegal masih diminati masyarakat Kalsel. Selama 2021, sejak Januari sampai Desember ada 14 orang yang digagalkan berangkat bekerja ke luar negeri tanpa prosedur resmi.

Kepala UPT Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Banjarbaru, Amir Hakim Abdi Sihotang mengatakan, dari 14 orang tersebut, dua di antaranya digagalkan 14 Januari 2021. Mereka merupakan warga Hulu Sungai Utara dan Banjar. "Tujuan mereka bekerja ke Uni Emirat Arab dan Arab Saudi," tuturnya.

Lanjutnya, lalu lima lainnya ketahuan ingin bekerja ke luar negeri tanpa prosedur resmi pada 1 Februari 2021 tadi. Semuanya berasal dari Kabupaten Tapin. "Tujuan mereka juga mau bekerja ke negara Timur Tengah," ujarnya.

Kemudian tiga orang lainnya, kata dia keberangkatannya digagalkan pada 23 Maret 2021. Ketiga warga tersebut dua di antaranya diketahui berasal dari Desa Jalan Lurus Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sedangkan satunya lagi dari Desa Bongkang, Kecamatan Haruai, Kabupaten Tabalong.

Memasuki Mei, kembali dilakukan pencegahan keberangkatan calon TKI ilegal. Yakni satu orang dari Kalsel yang sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta. "Terakhir pada bulan Juli ada 3 orang lagi kita gagalkan berangkat menjadi TKI ilegal di Bandara Syamsudin Noor," papar Amir.

Dia menyebut, keberangkatan 14 calon TKI ilegal berhasil mereka endus berdasarkan informasi dari masyarakat. "Untuk itu kami sangat memerlukan adanya laporan dari masyarakat," katanya.

Selain itu, dia mengungkapkan, saat ini juga sudah dibentuk Tim Satgas pencegahan penempatan ilegal Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk mengawasi TKI ilegal. "Satgas ini anggotanya dari BP2MI, polisi, bandara dan imigrasi," ungkapnya.

Masyarakat Kalimantan Selatan memang punya minat besar untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau sekarang disebut dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Kasi Perlindungan pada UPT BP2MI Banjarbaru, Fachrizal menuturkan, berdasarkan hasil riset yang mereka lakukan, diprediksi ada ribuan masyarakat Kalsel yang kini menjadi PMI ilegal.

"Saya yakin ada ribuan orang Kalsel yang saat ini bekerja di luar negeri tapi tidak terdata. Baik itu melalui non prosedural, over stay, atau saat berangkat umrah menetap di Arab untuk bekerja," katanya.

Dia menuturkan, riset mereka lakukan dengan cara mendatangi sejumlah desa untuk mendata masyarakat Kalsel yang bekerja di luar negeri.

"Baru lima persen desa dari jumlah desa di Kalsel yang kami data. Tapi sudah ada 524 orang yang diketahui jadi PMI. Karena itu, kalau terdata di semua desa saya yakin ada ribuan orang Kalsel yang jadi PMI," tuturnya.

Dari 524 orang itu, Rizal menyebut sebagian besar tidak terdata di UPT BP2MI Banjarbaru Wilayah Kalselteng. Sehingga dipastikan, menjadi PMI ilegal. "Karena pada 2020, PMI yang terdata hanya 61. Sedangkan 2019, 166; 2018, 171 dan 2017, 132," sebutnya.

Lalu apa yang membuat masyarakat Kalsel mau menjadi PMI non prosedural? dia menuturkan, ada banyak cara yang dilakukan agen atau sindikat untuk merekrut TKI. Di antaranya adalah iming-iming gaji yang besar dan iming-iming uang untuk keluarga yang ditinggalkan. "Selain itu juga bisa berhaji, sehingga masyarakat mau," tuturnya.

Padahal kenyataannya, Rizal menyampaikan, ada banyak permasalahan yang dialami PMI non prosedural. Mulai dari penyiksaan hingga gaji tidak dibayar majikannya. "Sementara mereka tidak mempunyai perlindungan, karena berangkat secara non prosedural," ucapnya.

Terkait masih banyaknya PMI yang berangkat secara ilegal, Rizal mengungkapkan bahwa pihaknya selalu gencar melakukan pencegahan. Baik di bandara, maupun di tempat penampungan.

"Setiap tahun ada puluhan orang berhasil kami gagalkan berangkat. 2018 ada 51 orang, 2019 ada 31, 2020, 19 orang dan tahun ini sudah ada 14 orang," pungkasnya. (ris/by/ran)