BARABAI- Akun belajar.id siswa dan guru di Hulu Sungai Tengah (HST) menduduki peringkat kedua di Kalimantan Selatan. Kemudian tercatat berada di peringkat keempat se Indonesia dengan nilai aktivasi 60,02 persen.

Akun belajar.id merupakan akun pembelajaran elektronik yang memuat nama akun yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi untuk peserta didik, guru dan tenaga kependidikan.

Perjalanan akun belajar.id milik Dinas Pendidikan HST untuk sampai diperforma terbaik cukup panjang. Pada tanggal 1 November 2021 posisi aktivasi akun belajar.id ini berada di urutan 12 dari 13 Kabupaten dan kota di Kalsel. Peringkatnya terus merosot sampai diperingkat 13 pada 25 November.

Berangkat dari keresahan ini, Kepala Seksi Manajemen GTK Bidang SD, Dewi Susanti menggagas pertemuan dan diskusi via online dengan Duta Rumah Belajar, Sahabat Rumah Belajar, di Kabupaten HST dan Balangan.

Tujuannya untuk mendongkrak peringkat akun belajar.id milik Dinas Pendidikan HST. Setelah itu tim melakukan koordinasi dengan Plt Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar. Tujuannya agar dikeluarkan surat instruksi untuk aktivitasi akun pembelajaran di sekolah-sekolah dengan bantuan pengawas disetiap satuan pendidikan.

"Selain itu, para Sahabat Rumah Belajar ikut terlibat dalam sosialisasi percepatan aktivasi akun pembelajaran lewat zoom, siaran radio, dan datang ke sekolah langsung," kata Kepala Seksi Manajemen GTK Bidang SD, Dewi Susanti, Senin (20/12).

Perjuangannya berbuah manis. Tanggal 14 Desember diumumkan akun belajar.id milik Dinas Pendidikan HST berada di posisi kedua se Kalsel. Kemudian peringkat ke 4 aktivitas akun pembelajaran se Indonesia.

Kegunaan akun belajar.id yaitu untuk mengakses layanan atau aplikasi pembelajaran berbasis elektronik. Supaya mendukung pembelajaran daring atau luring melalui penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Akun Pembelajaran diberikan kepada peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan dari satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan Kesetaraan.

Dewi Susanti menjelaskan dengan akun ini siswa dan guru bisa mengakses berbagai kebutuhan kegiatan belajar mengajar. Mulai dari mengakses platform Kemdikbudristek sampai beragam aplikasi yang akan memudahkan kegiatan belajar mengajar, baik secara tatap muka ataupun jarak jauh.

"Aplikasi yang bisa diakses seperti panggilan video, aplikasi merdeka mengajar, penyimpanan daring, kelas daring, chrombook," jelasnya.

Keuntungan memiliki akun pembelajaran belajar.id yakni memudahkan kolaborasi antara kepala sekolah atau admin, guru dan peserta didik. Jika punya akun ini memberi kemudahan kepada siswa atau guru untuk memakai aplikasi-aplikasi yang ada di google bila telah mengaktifkan dan menggunakan akun belajar.id.

"Untuk mengakses materi pelajaran itu tempatnya di Portal Rumah Belajar. Nah, untuk bisa masuk ke Portal Rumah Belajar, kita harus punya akun pembelajaran yaitu belajar.id," ucapnya.

Akun belajar.id berbeda dengan platform seperti Ruang Guru. Akun ini hanya sarana agar bisa masuk ke Aplikasi Rumah Belajar. Di Aplikasi ini guru dan siswa bisa mengeksplorasi materi pelajaran dan memanfaatkan aplikasi penunjang belajar online lainnya.

Keuntungan lainnya dari aktivasi akun belajar.id yaitu memberikan space penyimpanan data bagi admin, guru, dan siswa dengan kapasitas yang tidak terbatas (Google Suite For education). Walaupun nantinya setelah menjadi Google Workspace For Education akan diberi batas.

"Batas kapasitas 100 T ini juga sudah sangat cukup bahkan berlebih. Lalu akun belajar memudahkan dalam kegiatan meet karena di classroom sudah ada dalam setiap kelas yang dibuat, memudahkan bagi siswa dan guru," bebernya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar sangat mengapresiasi kinerja jajarannya dalam aktivasi akun belajar.id. Menurutnya ini pencapain yang luar biasa. "Alhamdulillah, kita melesat jauh dari posisi ke 13 sekarang berada di posisi kedua di Kalsel dan posisi ke 4 di Indonesia," bangganya.

Untuk diketahui, posisi pertama aktivasi akun belajar.id di Kalsel diduduki Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan nilai aktivasi 65,42 persen. Kemudian di level nasional bertengger di peringkat pertama yaitu Kota Pekalongan 79,56 persen, dilanjutkan Kota Dumai (Riau) 65,84 persen, lalu Kabupaten Hulu Sungai Selatan 65,42 persen dan ke 4 Kabupaten Hulu Sungai Tengah 60,02 persen. (mal)