Berkejaran dengan waktu, penelitian tentang parang tradisional Kalsel kini dibukukan. Tonggak awal upaya pelestarian senjata tradisional.

Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Buku itu berjudul 'Eksotisme Parang Tradisional Kalsel'. Terdiri dari lima bab, total 100 halaman.

Bagi saya yang awam, sampul buku itu tampak misterius. Lantaran deretan foto parang di sampul itu diubah warnanya menjadi hitam putih. Meski tampak sedikit buram, tapi secara keseluruhan masih enak dipandang.

Semua bahan yang ada dalam buku itu merupakan kumpulan hasil penelitian Asosiasi Antropolog Indonesia (AAI) Kalsel, bekerja sama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel.

Seperti judulnya, buku itu tidak hanya berkutat tentang ulasan ragam bentuk dan jenis parang pada umumnya. Misalnya, parang Bungkul dan Lais yang terkenal di Banua. Tapi, juga ulasan tentang parang, yang bahkan kini dikategorikan langka.

Hal menarik lainnya, terkait kegunaan parang untuk alat kerja bertani dan berkebun. Ambil contoh seperti yang diulas dalam Bab III di buku itu.

Di masa perjuangan melawan penjajah, parang digunakan sebagai senjata. Kemudian di sisi lain, bahkan hingga kini, juga digunakan sebagai azimat. Mulai perlindungan diri dari ragam kejahatan atau musibah, untuk usaha atau dagang, kharismatik atau kewibawaan, hingga sebagai benda pusaka.

Kepada Radar Banjarmasin, Ketua AAI Kalsel Achmad Rafieq menjelaskan, penelitian dimulai sejak Agustus 2021 lalu. Menggandeng Komunitas Pencinta Senjata Tradisi Kalsel, yakni Komunitas Wasi Pusaka Banua (Wasaka), wilayah penelitian parang menjamah sejumlah daerah. Seperti Kabupaten Barito Kuala (Batola). Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tapin, hingga sejumlah daerah di Hulu Sungai.

Penelitian dianggap perlu, lantaran kurangnya perhatian terhadap parang di Kalsel. Itu ditandai dengan minimnya pengetahuan tentang ragam parang yang ada.

"Ada kekhawatiran bila parang di Kalsel tidak diteliti dan diinventarisir, maka jenis parang akan punah, dan pengetahuan kita tentang hal itu akan hilang," jelas Rafieq.

Sebelum dibukukan, hasil penelitian sementara sempat didiskusikan melalui seminar pada 12 November lalu di Museum Wasaka. "Tujuannya menampung berbagai masukan dari pegiat dan pemerhati senjata tradisional, juga budayawan," tambahnya.

Berkejaran dengan waktu, akhirnya penelitian tuntas akhir November tadi. Hasilnya lantas dibukukan dan diperkenalkan, Senin (20/12) siang di Aula Hasan Basri, Dinas Pariwisata Kalsel.Dari hasil penelitian yang dibukukan itu, setidaknya tercatat 31 parang.

Saat perkenalan, buku Eksotisme Parang Kalsel itu juga diulas oleh akademisi di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), M Zaenal Arifin Anis. Diskusi pun berlangsung. Ada banyak masukan dari peserta yang hadir. Rata-rata, menginginkan adanya penelitian lanjutan.

Selain untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam, tentu untuk menambah khazanah keilmuan, hingga sebagai bentuk pelestarian.

Seperti diungkapkan salah seorang pegiat senjata tradisional di Banjarmasin, Syarifuddin Nur. Menurutnya, masih banyak hal yang bisa dieksplor dan diulas lebih mendetail.

"Dari sisi bentuk hulu (gagang) dan kumpang (sarung) parang. Atau motif ukiran, misalnya. Itu tak kalah menarik," sarannya.

Kendati demikian, lelaki yang akrab disapa Abah Sultan itu mengapresiasi langkah yang dilakukan peneliti. Lantaran sudah berupaya mendokumentasikan salah satu senjata tradisional Kalsel.

"Khazanah keilmuan dan dokumentasi kita tentang parang masih kurang. Mestinya, tiap tahun ada program seperti ini dari pemerintah. Ini penting, sebagai bentuk pelestarian dan edukasi budaya," tekannya.

Sementara itu, dari pandangan pengulas buku, M Zaenal Arifin Anis, menginginkan buku yang dibuat hendaknya menggunakan bahasa populer. Tujuannya, agar bisa dibaca oleh berbagai kalangan.

"Ulas juga kronologinya. Sentuh pada tradisinya. Kita sekarang kekurangan pengetahuan lokal, karena banyak yang mengabaikan," ucapnya.

"Ambil contoh, pengetahuan tentang besi yang digunakan, bisa lebih dilacak lagi. Zaman sekarang, bahan besi bisa dibeli alias mudah dicari. Tapi, bagaimana dengan zaman dulu? Saya kira nanti bisa ditambahkan lagi," lanjutnya.

Di akhir pertemuan, Ketua AAI Kalsel Achmad Rafieq menyadari, apa yang dilakukan masih jauh dari kata sempurna. Banyak hal yang mesti digali dari penelitian parang. "Tapi setidaknya, buku ini menjadi pemantik untuk karya ke depan," pungkasnya. (war)