BANJARMASIN - Lambatnya proyek Jalan Liang Anggang-Bati-Bati menjadi perhatian Kementerian PUPR. Mereka langsung menegur Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin atas temuan ini. 

“Saya ditegur kementerian. Mereka mengetahui juga dari berita,” beber Syauqi Kamal, Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin, kemarin.

Diungkapkannya, Kementerian PUPR melalui Dirjen Bina Marga sudah berkali-kali meminta penjelasan. Termasuk progres pekerjaan jalan ini. “Mereka (kementerian) bertanya ada apa dan kenapa sampai seperti ini?” tambahnya.

Syauqi sendiri mengaku sudah maksimal mendesak kontraktor. Dia sering mendatangi lokasi proyek Rp74 miliar ini dan memarahi kontraktornya. “Saya Sabtu dan Minggu kesana. Kalau Anda dengar, kata-kata saya bahkan sudah di atas batas kewajaran. Ini demi cepatnya pekerjaan,” tukasnya.

Dia mencontohkan, pekerjaan Jalan Gubernur Syarkawi yang dulu juga rusak parah sempat didatanginya juga. Akhirnya bisa tertangani setelah diberi masukan dan mau diarahkan. “ Yang ini saya bingung juga, ketemu kontraktor seperti ini. Mereka mengakunya bisa, tapi lambat,” keluhnya.

Syauqi menegaskan tak ada perubahan kontrak kerja. Kontraktor harus menyelesaikan, meski nantinya bekerja di waktu denda. “Tak ada perpanjangan kontrak. Harus diselesaikan cepat,” tegasnya. 

Ada dua paket pekerjaan proyek ini. Yakni paket 1 dengan nilai kontrak sebesar Rp42,7 miliar dan paket 2 dengan nilai kontrak Rp32,9 miliar. Paket 1 pekerjaannya digarap oleh PT Anugerah Karya Agra Sentosa (AKAS) yang beralamat di Jalan Besar Ijen Malang, Jawa Timur. Sedangkan paket 2 dikerjakan PT Nugroho Lestari yang beralamat di Jalan Ciliwung Malang, Jawa Timur.

Perkara hambatan cuaca, Syauqi tak mau tahu. Menurutnya, semua pekerjaan ada konsekuensinya. Tentu saja semua kontraktor memiliki teknik yang dilakukan ketika ada hambatan cuaca. “Memang kalau tak hujan enak saja pekerjaannya. Apalagi sempat dilewati angkutan besar. Manajemennya juga kurang bagus, lambat,” imbuhnya.

Syauqi tak mau berkomentar tentang desakan audit seperti yang disampaikan mantan Ketua LPJK Kalsel, Subhan Syarief. “Saya tak mau komentar soal ini. Minta maaf,” tandasnya. 

Di sisi lain, Pimpinan PT Nugroho Lestari, Obed Eko Kurniawan bergeming ketika dikonfirmasi soal progres pekerjaan ini. Pesan WhatsApp tak dibacanya meski online. Kontraktor ini sendiri memiliki catatan yang kurang baik saat bekerja di Kalsel.

Mantan Kepala Dinas PUPR Kalsel, Martinus membeberkan, kontraktor ini pernah disorot saat terjadinya keterlambatan pekerjaan di Jalan Mataram Sungai Ulin dan di ruas Jalan Hulu Sungai Selatan. “Ini kan pihaknya atau orangnya sama. Dulu sewaktu di Kandangan ketika pengerjaan jalan Lingkar Kandangan juga jadi catatan,” ujar Martinus. (mof/by/ran)