BARABAI - Dua sekolah di Hulu Sungai Tengah (HST) jadi langganan banjir saat musim hujan. Selain mengajar, para guru juga dibuat sibuk mengamankan dokumen sekolah dan membersihkan lumpur sisa banjir.

Dua sekolah tersebut yakni SDN 3 Mandingin, Kecamatan Barabai dan SDN Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara, Hulu Sungai Tengah. Letak geografis dua sekolah ini memang berada di dataran rendah.

SDN 3 Mandingin dekat dengan aliran Sungai Barabai, sedangkan SDN Sungai Buluh dekat dengan rawa. SDN Sungai Buluh menjadi sekolah yang paling lama terendam.

Guru SDN Sungai Buluh, Arifin mengatakan hingga kemarin (21/12) sekolahnya masih terendam. Sekolah ini sudah terendam sejak 1 Desember lalu. Artinya sudah 21 hari sekolah digenangi air. "Para siswa sampai harus mengerjakan soal penilaian akhir semester di emper rumah warga beralas terpal," kisahnya.

Selain berada di dataran rendah, Arifin menjelaskan jarak sekolahnya dengan sungai kurang lebih 50 meter. Air yang merendam sekolah juga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Biasanya dalam kurun waktu satu bulan air baru surut. Itupun jika tidak turun hujan lagi.

"Kalau cuaca cerah ada penurunan air. Tapi kalau hujan turun ya air kembali naik," jelasnya.

Jika banjir sudah surut, para guru harus membersihkan sisa lumpur. Kisah yang sama juga dialami para guru di SDN 3 Mandingin. Sekolah ini notabene masih berada di perkotaan Barabai. Namun menjadi langganan banjir. Bulan November tadi sekolah ini sudah 5 kali kebanjiran.

"Lucut (bahasa Banjar artinya: lelah) baru dibersihkan sudah kebanjiran lagi," kata Guru SDN 3 Mandingin, Fahriadi. Ketinggian air saat banjir di sekolah ini bisa sampai 2 meter. Untuk itu tiap kali hujan lebat mengguyur kota Barabai para guru dibuat was-was, takut jika banjir merendam sekolah.

"Jadi buku pelajaran ada yang kita selamatkan dengan cara dibawa ke rumah dan dokumen dinaikkan ke atas lemari," kisahnya. Tiap kali banjir para siswa terpaksa diliburkan.

Sudah jadi langganan banjir, lantas bagaimana mitigasinya? Plt Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar menjelaskan mitigasi bencana yang lebih komprehensif atas kejadian banjir yakni: pengamanan dokumen penting, elektronik, untuk mengurangi kerugian besar seperti banjir awal Januari lalu.

Untuk mitigasi jangka pendek yakni: pemetaan sekolah terdampak, pembinaan sekolah agar lebih siap dalam pengamanan dokumen dan peralatan sekolah, serta pembentukan desain komunikasi early warning system yang lebih baik.

Sedangkan mitigasi jangka panjang yakni: evaluasi konstruksi sarana prasarana pada sekolah yang terpetakan sebagai langganan terdampak banjir, dengan sistem konstruksi yang lebih baik. "Misal semua ruang kelas berada di lantai dua dengan basemen di lantai satu," jelasnya.

Namun yang perlu diingat tidak semua sekolah di HST bertingkat. Jadi evaluasi konstruksi sarana prasarana hanya bisa dilakukan bagi sekolah yang bertingkat saja. Lantas apakah ada kendala dalam mitigasi ini?

"Kendala teknis tentu kemampuan keuangan Pemerintah HST yang sangat terbatas, sehingga peran dan perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, dan Pemerintah Pusat menjadi harapan kami untuk berkolaborasi dan memberi dukungan," pungkasnya.

Sebagai gambaran pada banjir Januari 2021 lalu jumlah sekolah yang terdampak sekitar 167 sekolah. Data Dinas Pendidikan HST menyebut untuk banjir bulan November 2021 tadi SMP 13 sekolah, SD 32 sekolah dan PAUD 41 sekolah. (mal)