BARABAI- Sungguh miris melihat suasana belajar para siswa di SDN 3 Haruyan Dayak, Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah (HST). Karena gedung sekolahnya hancur diterjang banjir dan longsor, mereka terpaksa belajar di tenda darurat.

Parahnya, kondisi seperti ini sudah terjadi sejak Januari 2021. Sejak HST dilanda banjir bandang. Seluruh bangunan sekolah porak poranda. Ruang kelas 1 sampai 4 hancur tak tersisa. Sedangkan ruang kelas 5, perpustakaan dan kantor guru rusak berat. Tak hanya itu, fasilitas water closet yang baru dibangun 2020 tadi juga rusak.

Bangunan sekolah ini memang semi permanen. Hanya gedung perpustakaan yang bangunannya permanen. “Sedangkan bangunan lainnya lantai beton dan dinding kayu,” kata Lina Erma Yanti, Guru SDN 3 Haruyan Dayak, Kamis (23/12).

Selama pandemi siswa memang belajar dari rumah, namun setiap dua pekan sekali yaitu hari Senin dan Rabu para siswa datang ke sekolah untuk menerima tugas dan mengumpulkan tugas. Jadi proses belajar masih tetap berlangsung meski kondisi terbatas. “Para guru yang ke rumah siswa untuk memberikan pelajaran,” lanjutnya.

SDN 3 Haruyan Dayak memiliki siswa 68 orang. Untuk menuju sekolah ini diperlukan waktu 1 jam dari pusat kota Barabai. Akses menuju sekolah ini cukup sulit, memang jalannya sudah aspal dan paving. Namun, keadaannya sudah mengkhawatirkan. Jalan aspal rusak dan paving mulai ambles.

Belum lagi jika hujan lebat, musibah longsor menghantui para guru. Sudah beberapa kali jalan menuju sekolah ini tertimbun material longsor. Alhasil kondisi jalan semakin parah, becek dan licin.

“Kami juga harus melewati jembatan darurat. Jembatan ini sudah lima kali lebih hanyut diterjang luapan air Sungai Hantakan,” kata guru yang sudah mengajar lima tahun di sekolah tersebut.

Setelah menunggu hampir 11 bulan akhirnya SDN 3 Haruyan Dayak dapat bantuan ruang kelas darurat senilai Rp 50 juta dari Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi.

Ruangan ini digunakan untuk tempat belajar para siswa sementara. Ukuran lebar dan panjang 6x7 meter ditambah teras 1,2 meter. Sayangnya, ruangan tak mampu menampung semua siswa. Alhasil, para siswa harus berbagi ruang, ada yang belajar di dalam tenda darurat.

Plt Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar mengakui, memang pada perubahan anggaran 2021 tadi Pemkab HST tidak mengalokasikan anggaran untuk perbaikan sekolah tersebut. “Sebab dulu ada yang menjanjikan ingin membantu memperbaiki dari lembaga sosial atau organisasi profesi. Tapi sampai sekarang tidak ada realisasi,” katanya.

Untuk itu, perbaikan sekolah baru dianggarkan di APBD 2022 mendatang. “Karena pelayanan pendidikan bagi anak di pegunungan Meratus merupakan prioritas kita,” jelasnya.

Selain bantuan ruang kelas darurat, Anhar menjelaskan, SDN 3 Haruyan Dayak juga dapat bantuan uang Rp 17 juta dari Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi. Uang ini digunakan untuk membeli peralatan kebersihan, alat tulis, buku, dan keperluan belajar siswa lainnya. (mal)