Prasangka terorisme boleh jadi mengusik kenyamanan peringatan Natal di Kota Banjarmasin. Kendati demikian, jemaat gereja meyakini, mereka yang beragama tak mungkin menyakiti sesama.

***

BANJARMASIN - Penangkapan tersangka teroris itu terjadi tepat dua hari sebelum 25 Desember.

Rabu (21/12) lalu, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror menggeladah sebuah rumah di Kelurahan Kuin Selatan. Sebelumnya, terduga pelaku sudah lebih dulu ditangkap dari tempat kerjanya di kawasan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut.

Belakangan, Mabes Polri menyatakan, penangkapan ini berkaitan dengan Jemaah Ansharut Daulah (JAD).
Terkenal toleran dan kondusif, kabar ini jelas mengusik masyarakat Banjarmasin.

Kemarin (24/12), pengelola Gereja Katedral Keluarga Kudus (Gereja Batu) di Jalan Lambung Mangkurat, mengimbau jemaatnya untuk tidak membawa-bawa tas berukuran besar saat hendak beribadah.

"Namun, bila dibawa pun, tak apa-apa. Tapi, akan ada pemeriksaan oleh pantia Natal yang didampingi aparat. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ungkap Wakil Ketua II Paroki Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin, Andrian Darmawan.

Sebenarnya, tanpa kegaduhan terorisme pun, pihaknya selalu berkoordinasi dengan aparat menjelang perayaan Natal. "TNI dan Polri selalu memberikan dukungan dengan menyiapkan personel yang diutus untuk berjaga," tambahnya.

"Selain itu, kami juga selalu bekerja sama dengan ormas-ormas saudara muslim. Mereka juga turut membantu penjagaan," lanjutnya.

Sementara itu, pastor Ignasius Tari MSF menanggapi berita penangkapan teroris itu dengan tenang. "Kami selalu meminta agar umat tidak terlalu reaktif. Mengenai aksi dugaan terorisme, biarlah aparat keamanan yang menangani," tegasnya.

"Setiap perayaan keagamaan besar, seperti Natal dan Paskah, selalu ada pengamanan. Jadi tenang saja. Tetap berdoa dengan tenang," lanjutnya.

Ignasius lalu mengingatkan, prinsip dasar dalam menjalani kehidupan adalah kasih. Kasih yang semestinya dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

"Mengasihi siapa pun, bahkan meski kepada orang yang dipandang musuh," tekannya.

Ini menurutnya seiring dengan pesan Natal 2021. Yakni, cinta kasih yang menggerakkan persaudaraan.

"Kita mesti bekerja sama untuk mendukung semua hal baik. Kita semua adalah saudara. Cinta kasih lah yang menggerakan persaudaraan," tekannya.

"Di momen Natal ini, semoga kita bisa terus meningkatkan tali persaudaraan, bekerja sama untuk kebaikan, sehingga bisa hidup bersama dalam damai," harapnya.

Senada dengan apa yang diungkapkan salah seorang jemaat gereja, Yona. Ia mengaku tak ambil pusing dengan kabar-kabar teror tersebut. "Saya hanya meyakini, bahwa orang beragama takkan menyakiti sesama (makhluk hidup)," pungkasnya. 

Sterilisasi Gereja Jadi Lebih Ketat

Sterilisasi gereja menjelang Natal oleh Polresta Banjarmasin merupakan agenda rutin.

Seperti yang terpantau kemarin (24/12) di Gereja Kalimantan Evangelis Kalimantan (GKE) Effata di Jalan DI Panjaitan dan Gereja Katedral Keluarga Kudus di Jalan Lambung Mangkurat.

Kabag Ops, Kompol Irwan Kurniadi menjelaskan, sterilisasi melibatkan unit Jibom Gegana Korp Brimob, Unit K9 Sabhara Polda Kalsel dan Dit Samapta Polresta Banjarmasin.

"Kegiatan juga didampingi langsung oleh kapolsek yang di daerahnya terdapat gereja yang melaksanakan perayaan Natal," ucapnya.

Ada dua tim yang diturunkan, sterilisasi berlangsung sejak pagi hingga siang hari.

Disinggung terkait kabar penangkapan terduga teroris di Banjarmasin, Irwan mengakui, sterilisasi dan pengamanan gereja akan digelar lebih teliti dan lebih ketat.

"Untuk pengamanan saat prosesi ibadah, kami juga bekerja sama dan berkoordinasi dengan pengurus gereja. Apabila ada sesuatu yang mencurigakan, tidak menutup kemungkinan akan diperiksa," tekannya.

 

Irwan lantas mengungkap, pengamanan kali ini pihaknya menurunkan sebanyak 193 personil dari Polresta Banjarmasin. Disokong personel dari Polda Kalsel dan Satpol PP Kota Banjarmasin.

"Personel back up sifatnya memperkuat pengamanan di tiap gereja. Lalu, juga ada patroli. Khususnya, di kawasan-kawasan perayaan Natal tersebut," pungkasnya. 

Hanya Bagi yang Sudah Divaksin

Tahun ini adalah tahun kedua perayaan Natal di tengah pandemi COVID-19. Kali ini, ancamannya adalah mutasi Omicron.

Di Gereja Batu di Jalan Lambung Mangkurat, perayaan dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat. Panitia pelaksana bahkan menekankan, yang datang ke gereja mesti yang sudah menjalani vaksinasi.

"Kami menekankan itu. Hanya yang sudah bervaksin yang boleh mengikuti ibadah di gereja. Baik dosis satu dan dua. Kalau belum bervaksin, kami imbau untuk mengikuti acara secara daring di rumah," ungkap penanggung jawab pelaksana kegiatan natal di gereja tersebut, Abdon Winarko, kemarin (24/12).

Selain vaksinasi, panitia juga menekankan, jemaat yang sedang sakit tidak dibolehkan mengikuti kegiatan di gereja. Terlebih, bila sakitnya mengarah ke gejala COVID-19.

"Selebihnya, kami menekankan pada penerapan prokes. Seperti pengukuran suhu tubuh. Bila suhu tubuh berada di atas 37,5 derajat celcius, kami imbau untuk mengikuti acara secara daring saja," tekannya.

Selebihnya, kewajiban mengenakan masker, mencuci tangan pakai sabun sebelum memasuki gereja, dan menjaga jarak selama beribadah.

Lebih jauh, Abdon menegaskan, jumlah jemaat juga dibatasi. Tidak lebih dari 50 persen kapasitas tempat yang tersedia. Sesuai aturan dalam PPKM level 2 yang diberlakukan di kota ini.

"Untuk jemaat yang hadir, kami batasi hanya 600 orang dari yang biasanya sampai lebih 2.000 orang," pungkasnya.
Prosesi ibadah Natal digelar sejak kemarin sore hingga malam hari. Puncaknya digelar pada pagi ini (25/12). (war/fud)