BANJARBARU – Perusahaan batu bara di Banua kini semakin ramai mengekspor hasil galian mereka. Dinas Perdagangan Kalsel mencatat, nilai ekspor batu berwarna hitam tersebut pada Februari 2022 meningkat 100 persen lebih.

Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani mengatakan, berdasarkan data mereka, nilai ekspor batu bara pada Januari 2022 cuma USD335.018.434. Sedangkan di bulan berikutnya, yakni Februari mencapai USD686.821.677. “Sehingga nilai ekspor batu bara Kalsel ada kenaikan 105,01 persen,” katanya kepada Radar Banjarmasin. 

Dia mengungkapkan, ekspor batu bara meningkat signifikan dikarenakan dicabutnya larangan ekspor bagi ratusan perusahan pemegang PKP2B/IPUK. Ini berdasarkan surat ESDM nomor T-276/MB.05/DJB.B/2022 tentang Pencabutan Pelarangan Penjualan Batubara Ke Luar Negeri tertanggal 20 Januari 2022.

“Januari ekspor rendah, karena ada larangan ekspor. Kemudian Februari larangan dicabut, sehingga ekspor meningkat signifikan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Warga Mohon Polda Buka Police Line

Birhasani menyampaikan, saat ini semua perusahaan batu bara diperbolehkan mengekspor hasil galiannya. Tapi tetap dengan syarat mendahulukan pasokan di dalam negeri. “Agar kepentingan nasional akan energi batu bara tetap terjaga dan tercukupi,” ucapnya.

Disinggung bagaimana perkembangan ekspor di tengah perang Rusia dengan Ukraina, menurutnya penjualan batu bara ke luar negeri berpeluang mengalami kenaikan.

Dia menjelaskan, hal itu dikarenakan beberapa negara Eropa yang tadinya impor batu bara dari Rusia mengalami hambatan. Sehingga otomatis negara-negara itu akan mencari negara importir baru, salah satunya Indonesia. “Termasuk Kalsel berpeluang untuk meningkatkan ekspornya ke negara Eropa maupun Cina, harganya pun diprediksi membaik,” jelasnya.

Namun Birhasani mengaku belum menerima data terbaru ekspor batu bara pada Maret ini, sehingga tidak mengetahui sejauh mana dampak perang Rusia dan Ukraina terhadap permintaan batu bara dari negara Eropa.

“Sedangkan untuk bulan Februari konflik Rusia – Ukraina belum begitu berpengaruh, karena peperangan kedua negara yang sesungguhnya terjadi di Maret,” paparnya.

Sementara itu, Banjarmasin Representative Office Manager PT Adaro Indonesia, Abdurrahman membenarkan jika saat ini ekspor batu bara di Kalsel berjalan lancar. Namun dirinya enggan membeberkan jumlah batu bara yang mereka ekspor.

Abdurrahman hanya menyampaikan jika ekspor PT Adaro Indonesia sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). “Kalau (ekspor) Adaro biasa saja, sesuai RKAB,” ucapnya. Sedangkan, tujuan ekspor mereka ujar dia, ke negara Cina, Jepang dan Hongkong. (ris/by/ran)