Kepala Dinas Sosial Kota Banjarmasin, Iwan Ristianto mengatakan tak ada penghuni kolong Jembatan Antasari yang menerima tawaran pemko. Tawarannya, pindah ke rumah singgah di Jalan Gubernur Soebarjo. Atau menghuni rusunawa (rumah susun sewa). “Kami pernah menawarkannya, berkali-kali, tapi mereka tidak mau. Alasannya, jauh dari tempat bekerja di Pasar Lima,” ujarnya.

“Sejak awal tak ada yang mau pindah. Padahal, di rumah singgah tak dikenai biaya sewa sepeser pun. Bahkan, dijamin makan tiga kali sehari,” tambahnya.

Berbeda dengan rusunawa yang dikasih tarif sewa bulanan. Senin (14/3), Satpol PP menertibkan penghuni kolong. Barang-barang mereka disita. Pagar teralis kembali dipasang dan dilas. Mencegah mereka kembali menempati kolong jembatan di Banjarmasin Tengah.

Sebelum ditertibkan, Dinsos lebih dulu ke lapangan untuk pendataan. Tercatat ada tujuh kepala keluarga (KK) yang tinggal di sana. Pekerjaan mereka mengepul kardus dan barang bekas. Mengupas bawang atau menjadi buruh angkut di Pasar Lima.

Yang tercatat sebagai warga Banjarmasin, diusulkan masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Lewat data kemiskinan itu, mereka berhak menerima bantuan seperti beras atau uang tunai dari pemerintah.

Sedangkan yang berasal dari luar daerah, coba dipulangkan. “Sempat kami kembalikan ke daerah asalnya. Misalkan ada warga Kabupaten Barito Kuala, kami kasih ongkos untuk pulang,” tutup Iwan. Pantauan Radar Banjarmasin kemarin siang, tak tampak ada penghuni kolong yang kembali ke sana.

Diwartakan sebelumnya, Camat Banjarmasin Tengah, Diyanoor mengatakan, ini bukan penertiban yang pertama. Sudah yang kesekian kalinya selama tiga tahun terakhir. Dia berharap, kolong itu ditutup saja dengan pagar beton oleh Dinas Pekerjaan Umum.

“Karena teralis masih bisa dipotong. Dan mereka kembali lagi menghuni jembatan itu,” keluhnya. (war/at/fud)