elain langka, Serikat Petani Indonesia (SPI) mencatat harga pupuk nonsubsidi melonjak 100 persen sejak awal 2022. Kondisi ini membuat para petani semakin sulit untuk mendapatkan pupuk.

Para petani di Desa Sungai Alang, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan misalnya, saat ini kesulitan mendapatkan pupuk untuk padi mereka. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sungai Alang, Rawin mengatakan, sulitnya mendapatkan pupuk membuat para petani di sana memilih untuk tidak menggunakannya. 

“Sudah beberapa tahun petani menanam seadanya, tanpa menggunakan pupuk. Karena mahal dan susah mencarinya,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Karena tanpa menggunakan pupuk, dia menyampaikan, padi yang tumbuh di sawah mereka kualitasnya di bawah standar. “Bulirnya sedikit dan kecil-kecil. Sehingga produksi petani tidak maksimal,” ucapnya. Rawin menambahkan, selain di desa mereka, petani di daerah lain juga memilih untuk tidak menggunakan pupuk. “Di daerah lain juga sama. Saya tanya teman yang di Kecamatan Gambut, juga sama. Katanya pupuk langka,” tambahnya.

Dia menyebut, pupuk langka justru yang non subsidi. Sementara pupuk subsidi petani masih bisa mendapatkannya. Hanya saja harus menunggu cukup lama. “Jadi kalau mau mendapatkan pupuk subsidi harus mengajukan dulu ke distributor. Setelah itu kita menunggu kedatangan barangnya,” sebutnya.

Harga pupuk subsidi ujar Rawin, masih di kisaran Rp122 ribu per sak. Sedangkan untuk yang non subsidi, dia mengaku tidak tahu berapa harganya. “Karena memang sulit mencari yang non subsidi,” ujarnya.

Sementara itu, kelangkaan pupuk juga dialami para petani di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bahkan, sejumlah petani sudah bertahun-tahun tidak menggunakan pupuk. Salah satunya, Yuni, salah seorang petani di Desa Kayu Rabah, Kecamatan Pandawan. “Kalau di kampungku tanahnya subur, jadi nggak masalah tidak pakai pupuk,” katanya.

Dia menyebut, di desanya pupuk hanya digunakan di sektor perkebunan. Seperti tomat, cabai dan lain-lain. Sedangkan pertanian, banyak yang tidak menggunakannya. “Karena walaupun tanpa pupuk, hasil padi tetap bagus,” sebutnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan Syamsir Rahman tak menampik pupuk di Kalsel harganya mahal dan langka. “Pupuk kita non subsidi sangat mahal sekarang. Alokasi yang diberikan oleh pemerintah untuk pupuk bersubsidi juga sangat terbatas,” katanya.

Kalau pun ada pupuk bersubsidi di lapangan, menurutnya stoknya akan cepat habis. Lantaran beda harga antara pupuk bersubsidi dan non subsidi sangat jauh. “Bedanya sekitar Rp100 ribu,” ujarnya.

Peminat pupuk ujar Syamsir sangat tinggi, sehingga sektor tanaman pangan banyak yang tidak kebagian. “Ini suatu problema yang menyebabkan produksi padi turun,” paparnya. Tingginya peminat pupuk kimia ujar dia, harus diubah ke pupuk hayati yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran. Tapi produktivitas masih bersaing. “Karena yang kimia pupuknya tidak ada. Juga menjadi beban tanah memikul kimiawi,” ujarnya.

Ditambahkan Syamsir, kini Kementerian Pertanian mulai mengubah sebagian bantuan pupuk kimia menjadi pupuk hayati. (ris/by/ran)