Enam Perusahaan di Kalimantan Selatan menerima rapor merah, dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Dinas Lingkungan Hidup Kalsel menyebutkan, keenam perusahaan tersebut yakni PT Conch South Kalimantan Cement di Kabupaten Tabalong, PT Fumakilla Indonesia di Banjarbaru dan PT Maritim Barito Perkasa di Banjarmasin.

Selanjutnya, ada PT Pancuran Kaapit Sendang di Banjarbaru. PT Energi Batubara Lestari di Tapin dan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Banjarmasin. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana mengatakan, penyebab perusahaan menerima rapor merah beraneka ragam. Mulai dari ketepatan waktu dalam memasukan data dalam formulir penilaian secara online. Serta, terkait komitmen dalam penanganan lingkungan pasca produksi.

“Pertama tidak ter-upload data untuk proper. Kedua, tidak mempunyai penanggungjawab dan operator yang bersertifikat air, udara dan LB3,” katanya.

Setelah Kemen LHK mengumumkan hasil penilaian, dia menuturkan, pihaknya langsung memanggil perusahaan bersangkutan, untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi di lapangan saat mengikuti penilaian Proper Lingkungan.

Lanjut hanifah, mereka kemudian melakukan pembinaan kepada lima perusahaan. Dengan rincian, tiga dalam tahap penyusunan berita acara hasil pembinaan. Dan dua perusahaan lainnya, sedang proses melengkapi data untuk berita acara. “Adapun, satu perusahaan sisanya juga akan segera dilakukan pembinaan,” bebernya.

Dengan adanya pembinaan dan pendampingan maksimal di lapangan, ditargetkan pada penilaian tahun ini, tidak ada perusahaan yang mendapatkan penilaian merah.

Sedangkan, untuk perusahaan yang telah mendapatkan penilaian biru, ditargetkan memperoleh rapor hijau, bahkan bisa meraih rapor emas.

“Target kita tahun ini tidak ada lagi yang dapat rapor merah, yang biru bisa menjadi hijau. Syukur-syukur bisa emas seperti PT. Adaro tahun kemarin,” harap Hanifah. Dia menyampaikan, ada beberapa kriteria yang dilakukan dalam penilaian proper lingkungan oleh Kementerian LHK.

Mulai dari pengendalian pencemaran air, pemeliharaan sumber air, pengendalian pencemaran udara, pengelolaan limbah B3 dan non B3, sampai pengendalian kerusakan lahan. “Ada pula penilaian terhadap upaya perusahaan yang meliputi penilaian terhadap daur hidup dan penerapan sistem manajemen lingkungan,” pungkasnya.

Sementara itu, Humas PT Conch South Kalimantan Cement, Floren saat ditanya terkait rapor proper merah yang mereka terima, tidak merespons ketika dihubungi wartawan koran ini. (ris/by/ran)