Bermodal akar jangang, sebuah gelang unik pun dihasilkan. Inilah gelang khas Pulau Kalimantan, Gelang Simpai.

– Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Pencinta aksesori tradisional khas Kalimantan pasti mengenalnya.  Simpai dianyam dari akar tanaman jangang atau Alang Am. Di Indonesia, dikenal sebagai tanaman resam, masih tergolong tumbuhan paku atau pakis. Keunikannya, si pemesan langsung mendatangi si perajin. Ya, langsung dianyam di tempat pada anggota badan yang diinginkan.

Bisa di pergelangan tangan, jari, otot lengan atas, kaki, bahkan di leher. Tapi kebanyakan di lengan, makanya lebih dikenal dengan sebutan gelang simpai. Soal tampilan, terlihat eksotis. Salah satu perajin simpai di Kota Banjarmasin adalah M Rizky Subakya. Subak sapaan akrabnya. Dia menggeluti kerajinan tangan ini sejak tahun 2004 lalu.

Dituturkannya, pada mulanya anyaman ini juga untuk menghasilkan barang lain semisal peci. “Di Kalsel, kita mengenal kupiah jangang,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, (13/3). Soal metode, sama-sama dianyam. Hanya saja peci lebih rumit. Karena jangangnya harus diraut sampai halus. Maka jangan heran, harganya pun mahal. Satu peci jangang berkisar antara ratusan ribu sampai jutaan rupiah.

Sedangkan untuk gelang, lebih terjangkau. Dari Rp10 ribu hingga di atas Rp100 ribu per buah. Kembali ke pembuatan, untuk memudahkan menarik anyaman, Subak kerap memakai sehelai bulu landak. Si pemesan akan ditanya hal-hal dasar. Seperti berwarna atau tidak. Lalu, ingin selebar apa. Paling kecil, tak lebih dari dua lidi disatukan.

“Kami biasa menyebutnya simpai satu jalur. Sedangkan yang paling lebar itu 12 jalur. Kira-kira lebih dari lima jari orang dewasa,” jelasnya. “Bila ingin berwarna, kami menambahkan bahan lain seperti akar rotan. Karena jangang warna aslinya kemerah-merahan atau hitam. Sedangkan rotan kekuning-kuningan,” terangnya. 

Soal ketahanan, bisa awet sampai bertahun-tahun. Tergantung perawatan. “Merawatnya mudah. Bisa diolesi minyak zaitun. Dua kali sehari seusai mandi,” tambahnya. “Tak apa-apa terkena air, justru bagus. Karena bahannya seperti kayu ulin. Bila terkena air ia tambah kuat,” lanjutnya.

“Tapi ada juga sih, yang belum sepekan sudah putus. Karena si pelanggan ternyata mau ikut tes jadi aparat negara. Jadi disuruh memotong sama pengujinya,” tambahnya tergelak. Karena langsung dianyam di lengan pemakai, maka sulit untuk dilepas. Cara melepasnya hanya dengan digunting. Ingat, yang dipotong itu gelangnya, bukan lengannya.

Dipercaya Penolak Parang Maya

DI PULAU Kalimantan, gelang simpai punya nama-nama berbeda. Tergantung Anda berada di mana. Contoh, di Kalteng disebut gelang bruta. Di Kalbar disebut gelang resam. Sedangkan di Kaltim disebut gelang pakis.

“Tapi, di mana pun maknanya tetap sama. Yakni persahabatan,” kata Subak, perajin simpai. “Bahan yang dipakai juga masih sama,” sambungnya.

Soal sejarah, ternyata dulunya simpai tak bisa dipakai semua orang. Di Kalteng, minimal menyandang pangkat panglima perang suku.

“Sedangkan di Loksado (Kabupaten Hulu Sungai Selatan), saya pernah mendengar, dipakai sebagai penangkal makhluk halus. Hingga pengadang marabahaya yang bersifat sihir seperti parang maya,” tuturnya. Di kampung halaman Subak sendiri, hanya yang berdarah keturunan Suku Dayak yang boleh belajar membuatnya.

Kepada penulis, Subak mengakui ia bukan asli orang Banjarmasin. Dia perantauan. Berasal dari Mantangai, Kalteng. Lulus SMA, dia memutuskan kuliah di Banjarmasin. Kini ia duduk di semester delapan. “Ketika saya belajar membuat gelang ini, ada tata krama khususnya,” ungkapnya.

Lantas, bagaimana dengan orang umum yang hendak belajar? Subak mengatakan boleh-boleh saja. Bahkan ada yang autodidak lewat tutorial di YouTube. “Saya hanya ingin melestarikan adat istiadat. Budaya orang terdahulu,” tukasnya.

Rekan sesama perajin, Annur menimpali, tentu dianyamkan oleh perajin yang belajar khusus dan yang autodidak berbeda rasanya. “Ada chemistry-nya. Lain juga,” timpalnya. Dari 2004 sampai 2022, sudah tak terhitung karya yang dibuat Subak. Mungkin sudah ribuan.

Di akun Instagram-nya, @gelangsimpaibanjarmasin, ada 4 ribu yang menjadi pengikut. Subak biasanya “membuka praktik” di kawasan Menara Pandang, Siring Pierre Tendean. Dua kali dalam sepekan, yakni Sabtu dan Ahad. Selebihnya, melayani pemesan di rumah keluarganya di Jalan Cempaka Putih Gang 7, Banjarmasin Timur.

Semestinya, kemarin (13/3), Subak sibuk di siring. Tapi lantaran hujan terus-menerus, ia urung membuka lapaknya. “Hujan begini pasti sepi,” ujarnya. Soal pangsa pasar, simpai diminati anak muda sampai orang tua. “Pernah, dahulu ada seorang veteran yang meminta dibikinkan simpai. Kata beliau biar terlihat lebih muda,” kisahnya.

Karena sudah bertahun-tahun menganyam, Subak biasanya hanya memerlukan 10 menit untuk satu pesanan. Tergantung tingkat kesulitan permintaan. “Sebenarnya bisa saja membuatnya lebih cepat. Tapi khawatir menurunkan kualitas. Malu, bisa ditertawakan perajin lain,” jelasnya.

Subak tak pernah takut tersaingi. Menurutnya, semakin banyak perajin semakin bagus. Bisa mendukung ekonomi kreatif daerah. “Sejauh ini, setahu saya hanya ada empat perajin di Banjarmasin. Makanya kadang kewalahan juga melayani permintaan,” tambahnya.

Soal rezeki, ia tak takut. Karena sudah ada yang mengatur. “Saya lebih takut kalau budaya ini tak ada yang mau melestarikannya,” tutupnya. (war/at/fud)