Terpidana kekerasan seksual yang divonis kebiri kimia oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin masih menunggu eksekusi. Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Banjarmasin, Roy Modiono mengatakan, eksekusinya masih diproses.

“Kami masih berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang berkompeten mengeksekusinya,” ujar Roy (15/4). Ditekankannya, jaksa tidak memiliki keahlian untuk melaksanakan sendiri eksekusi kebiri kimia. “Memang harus tenaga kesehatan yang melakukannya. Kalau kami tidak punya keahlian untuk itu. Mudah-mudahan bisa secepatnya,” harapnya.

Sejak tahun 2021 hingga triwulan pertama tahun 2022, ada tiga perkara asusila yang tidak hanya diganjar pidana penjara dan denda saja, tapi juga hukuman kebiri kimia.

Pertama, vonis kebiri kimia selama 2 tahun terhadap terpidana berinisial AM (46) yang dibacakan majelis hakim pada 23 Juni 2021. Kedua, vonis serupa dijatuhkan kepada terpidana berinisial SY pada 12 Agustus 2021. Terakhir, vonis kebiri kimia selama setahun kepada MRA pada 21 Januari 2022.

“Sementara ini para terpidana masih menjalani hukuman pidana pokok yaitu penjara di Lapas Kelas IIA Banjarmasin,” ujarnya. Sementara di bagian lain, Humas PN Banjarmasin, Febrian Ali mengatakan, majelis hakim tentu tidak sembarangan dalam menjatuhkan vonis kebiri kimia sebagai hukuman pidana tambahan. 

Dia mencontohkan pada perkara asusila dengan terpidana MRA. Kebetulan Febrian adalah salah satu anggota majelis hakim, pertimbangannya adalah besarnya dampak yang disebabkan terhadap korban yang masih di bawah umur.

“Alasannya karena adanya trauma terhadap korban, lalu ada penderitaan psikis yang mendalam. Apalagi terpidana ini, sebagai orang tua tiri, seharusnya menjadi orang yang melindungi korban,” pungkasnya. (gmp/az/fud)