KALIMANTAN Selatan tidak bisa dipisahkan dari sungai dan jukung (sampan kayu). Sekarang, meskipun sungai tak lagi menjadi jalur utama transportasi masyarakat Banjar, jasa pembuat jukung tetap dicari. Jukung yang Anda lihat di sungai-sungai, dahulu dan sekarang, ternyata banyak yang berasal dari Pulau Sewangi. Sebuah kampung di Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala.

Kampung ini dikelilingi Sungai Alalak yang menjadi perbatasan dengan Kota Banjarmasin. Di sebelah barat, Pulau Sewangi berhadapan langsung dengan Sungai Barito. Di sini, pagi sampai sore, perajin jukung sibuk mengerjakan pesanan.

“Dalam sebulan kami bisa mendapat pesanan hingga lima unit jukung. Pembuatan satu jukung butuh waktu hingga dua pekan,” sebut Arsyad, salah seorang perajin (2/6). Untuk bahan baku kayunya didapat dari Kalteng. Jenis kayu pasak gunung, lanan biru, klepek, supang, dan kayu mada hirang. 

Satu jukung biasanya dikerjakan dua sampai tiga orang. Digarap secara tradisional. “Sebagaimana ilmu jukung yang diwariskan orang tua kami terdahulu. Bedanya, ada bantuan mesin seperti bor listrik. Tapi untuk desain dan pengukuran, masih tradisional,” jelasnya. Soal harga, satu jukung dijual Rp5 juta sampai Rp15 juta.

“Pembelinya dari Batola dan Banjarmasin. Nelayan Asam Asam dan Takisung juga sering beli di sini. Ada juga yang dari luar, dari Kalteng,” tambahnya. Arsyad dan kawan-kawan boleh berbangga. Sekalipun bukan sarjana teknik, jukung mereka tak pernah dikeluhkan pelanggan.

“Alhamdulillah, semua yang beli jukung di sini merasa puas. Bahkan sampai beberapa kali memesan. Di Pulau Sewangi, setidaknya ada 30 perajin. Mereka sudah punya pelanggan setianya masing-masing,” ceritanya. Ditanya apakah ada ritual khusus dalam pembuatan jukung, dia menggeleng. “Kami hanya menyarankan pembeli untuk selamatan kecil-kecilan. Membaca doa sebelum jukungnya dilepas ke sungai,” tutupnya. (oza/gr/fud)