Musim kemarau telah tiba. Risiko Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalsel kembali menjadi perhatian pemerintah pusat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberi jatah 20 helikopter untuk provinsi ini guna mengatasi karhutla.

Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Mujiyat mengatakan 16 unit yang dikirim merupakan jenis water bombing. “Empat lainnya heli patroli,” katanya kemarin (5/6). Ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu yang hanya 16 heli. “Tahun lalu hanya 12 heli water bombing, dan empat heli patroli,” ujarnya.

Dia optimis karhutla tahun ini bisa dikendalikan. “Mudah-mudahan makin ringan dari tahun-tahun sebelumnya,” harapnya. Adapun untuk titik api, sudah ada 21 kali kejadian sejak Januari hingga 30 Mei lalu dengan luasan lahan terbakar 42 hektare. “Paling banyak di kawasan hulu sungai,” sebutnya. 

Berhubung masih dianggap aman, pemprov sejauh ini belum menetapkan status apapun terkait karhutla 2022. “Kami masih menunggu ada penetapan status dari kabupaten dan kota. Minimal dua daerah, baru kami menetapkan status,” kata Mujiyat.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dia menyebut ancaman diperkirakan paling banyak di Tanah Laut dan Batola. “Jadi menunggu kedua daerah itu menetapkan status. Baru kami juga tetapkan status siaga karhutla,” sebutnya.

Kabid Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Sahrudin menyampaikan sesuai rilis BMKG, musim kemarau tahun ini terjadi pada pertengahan Mei hingga akhir Juli. “Sedangkan puncak kemarau di bulan Agustus,” katanya. Lantaran sudah memasuki musim kemarau, Pemprov Kalsel telah bergerak mencegah karhutla. Di antaranya menggelar rakor pada pekan lalu.

Sebelumnya presiden meminta kepala daerah agar memprioritaskan pencegahan, kesiapan infrastruktur, dan monitoring ke bawah. Kemudian edukasi masyarakat agar tak membakar lahan serta menata lahan gambut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana mengatakan sesuai prioritas kerja arahan Presiden Jokowi, pihaknya akan melaksanakan operasi pembasahan di areal rawan kebakaran di kawasan KHG (kesatuan hidrologis gambut). Pembasahan lahan gambut dilakukan apabila dalam lima hari tidak ada hujan. Supaya lahan tidak mudah terbakar.

Selain itu, DLH juga akan melibatkan kelompok masyarakat sekitar rawa gambut untuk mencermati kondisi dan memantau lahan. Supaya antisipasi karhutla cepat dilakukan. “Kami harapkan bencana karhutla seperti tahun 2015 dan 2019 dapat dicegah pada saat puncak musim kemarau tahun ini,” jelas Hanifah.(ris/az/dye)