Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Sabana Atmojo A Martosumitoa angkat bicara soal tahanan dugaan kasus narkoba yang meninggal dunia karena dianiaya.

“Tidak benar itu, kita punya bukti rekaman medik. Kami punya dokumennya. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, hasil EKG detak jantung lemah dan foto rontgen menunjukkan pembengkakan pada jantung, serta paru. Medis menyimpulkan almarhum meninggal akibat serangan jantung,” tegasnya, Minggu (12/6).

Kapolresta menjelaskan, sebelum meninggal dunia, terduga tersangka inisial SU (32) sudah seminggu menjalani proses penyidikan. Ia ditangkap Jumat(3/6) malam sekitar pukul 22.00 Wita di Gang Hasanuddin RT 18, Pekapuran Laut, Banjarmasin Tengah. Pria ini terlibat kepemilikan dua paket sabu. 

“Seminggu kemudian, dia mengeluhkan sesak napas, yakni Jumat (10/6) dini hari sekitar pukul 02.00 Wita. Petugas langsung membawanya ke RS Bhayangkara. Satu jam ditangani tenaga medis, kondisi SU membaik,” tuturnya.

SU lantas diperbolehkan untuk rawat jalan. Petugas kembali membawanya ke tahanan. Namun, pada malam harinya, ia kembali mengeluhkan sesak napas. Aparat pun kembali membawanya ke rumah sakit. “Petugas jaga memberikan informasi bahwa kondisi SU menurun drastis. Begitu juga setelah dicek oleh medis. Tak berselang lama, dia dinyatakan meninggal dunia diduga akibat serangan jantung,” ungkap Sabana.  

Terlepas dari itu, Sabana mengucapkan turut berduka cita yang mendalam. Ia atas nama seluruh anggota dan staf mengucapkan permintaan secara langsung kepada pihak keluarga. “Karena status tersangka saat meninggal adalah tahanan Mapolresta Banjarmasin,” ujarnya.

Sabana mengaku, aparat sudah berusaha maksimal untuk menyelamatkan tersangka. Namun, apa daya. Takdir berkehendak lain. Sebagai bentuk kepedulian, Sabana bersama sejumlah personel turut mengantarkan hingga ke pemakaman.

“Kami akan membantu seluruh biaya pemulasaraan jenazah hingga biaya 100 hari selamatan. Kita nantinya juga akan bertemu dengan keluarga almarhum untuk memberikan tali asih,” pungkasnya.

Terpisah, Sonia, istri almarhum SU, saat ditemui di rumahnya, mengaku tidak terima atas peristiwa itu. Ia menemukan banyak kejanggalan. Mulai dari bekas luka memanjang di telinga sebelah kanan, lebam pada bagian perut, punggung, dan kedua lengan kanan.

“Saya menduga kuat, suami saya dianiaya. Karena saat ditangkap, saya melihat sendiri ia dipukuli oleh sejumlah orang yang mengaku sebagai polisi, tapi berpakaian preman,” katanya, Sabtu (11/6) petang. Ironisnya, pemukulan juga tak sengaja disaksikan sang anak yang baru berusia 3,5 tahun. “Anak saya yang paling besar sempat melihat ayahnya dipukul saat ditangkap. Dan sekarang dia terus bertanya apakah ayahnya meninggal karena dipukuli,” ungkapnya.

Kejanggalan juga dirasakannya, ketika dirinya tidak diberi akses saat mencoba untuk membesuk sang suami di Mapolresta Banjarmasin. Kemudian, tiba-tiba saja, Sonia didatangi polisi ke rumahnya. Menginformasikan suaminya sudah meninggal di RS Bhayangkara akibat penyakit jantung.

Sementara itu, Noorliyan, ibunda dari SU terlihat sangat terpukul atas kematian anak ketiga dari enam bersaudara itu. Menurutnya selama hidup, anaknya sangat berbakti kepada orang tua. “Saya sebagai orang tua sakit hati. Saya tidak terima. Anak saya selama hidup berbakti kepada orang tua,” pungkasnya.(lan/War)