Dua tahun menanti akibat pandemi, akhirnya jemaah Kalsel kembali berangkat haji. Minggu (12/6) malam kloter pertama berangkat. Sayang, dari 360 calon haji (calhaj), tiga orang tidak bisa berangkat lantaran sakit.

Kepala Kanwil Kemenag Kalsel, Muhammad Tambrin mengungkap dua calhaj berasal dari Kabupaten Banjar. “Ibu dan anak. Dokter tidak merekomendasikan keberangkatan mereka,” ujarnya. Nama mereka Nor Aida Tara Malik, 53 tahun dan Fitriati Supianor Nangdi, 33 tahun. Seorang lagi dari Kabupaten Tanah Bumbu, Nur Asyiah Herman Anang, 63 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, dr Diauddin menyatakan, dua calhaj asal Banjar itu tidak berangkat lantaran covid. “Mereka harusnya berangkat berdua. Tapi karena pendampingnya positif, maka satunya juga tidak berangkat,” ungkapnya. 

“Sedangkan dari Tanbu, dibatalkan oleh daerahnya. Jadi belum tahu sakit apa,” tambahnya. Dia meminta calhaj tidak khawatir. Sebab ini hanya penundaan. Mereka masih bisa berhaji dengan menumpang kloter terakhir yang berangkat 21 Juni mendatang. Syaratnya, kesehatannya sudah membaik.

Diauddin membenarkan, sebagian besar calhaj tahun ini memiliki riwayat kesehatan berisiko tinggi (risti). “Ada 70 persen yang risti. Harus berangkat bersama pendamping,” jelasnya. Penyakitnya antara lain hipertensi, darah tinggi, diabetes dan kolestrol. “Khusus untuk kloter satu ini saja ada 100 lebih yang risti,” tutupnya.

Sebelum berangkat melalui Bandara Syamsudin Noor menuju Bandara King Abdul Aziz pada pukul 23.40 Wita, jemaah dilepas di Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin oleh Gubernur Kalsel Sahbirin Noor.Gubernur bersyukur, akhirnya jemaah bisa berangkat ke tanah suci. “Setelah menunggu karena pandemi, akhirnya hari ini telah terjawab,” ujarnya.

Dia berdoa, semuanya tetap sehat sampai rukun Islam kelima itu ditunaikan. “Kami semua merindukan kepulangan kalian. Semoga menjadi haji mabrur,” pungkasnya.

Penjual Pisang Naik Haji

Tursinah, nenek 60 tahun asal Kabupaten Tanah Laut ini, sudah lama bercita-cita ingin berhaji. Dari berjualan pisang, disisihkan sedikit uang untuk ditabung. “Setiap minggu kami menabung Rp200 ribu selama bertahun-tahun,” ungkapnya kepada Radar Banjarmasin.

Kami di sini, yakni Tursinah bersama suaminya yang bekerja sebagai petani. Allah berkehendak lain. Tahun 2019 lalu, suaminya meninggal dunia. Jadi Tursinah akan berangkat ke Mekah dengan ditemani putranya Khusairi. Ketika pandemi covid melanda dan suaminya pergi, Tursinah tak patah semangat. Dia terus menabung dan berdoa agar mendapat kesempatan menunaikan rukun kelima itu. “Alhamdulillah, tahun ini bisa berangkat. Walaupun tidak bersama suami,” tambahnya.

“Jadi anak saya yang menggantikan almarhum,” tutupnya. Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kemenag Tala, Muhammad Wahyudi menyebut ada 137 calon haji yang berangkat tahun ini. “Yang menjadi prioritas adalah jemaah yang mendaftar tahun 2010,” jelasnya. (ris/sal/gr/fud)