Membuat mesin sederhana dan bermanfaat jadi impian Sugiannor. Kapal perontok ilung akhirnya menjadi salah satu karya warga Desa Jingah Bujur Kota Amuntai itu.

Muhammad Akbar – Amuntai

Bisa jadi Sugiannor ibarat MacGyver versi Indonesia. Kalau sosok MacGyver yang pernah menghiasi televisi pada era 90-an itu terkenal dengan kecerdikan memanfaatkan peralatan untuk melawan kejahatan. Sedangkan warga di Desa Jingah Bujur, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara lebih mengenal Sugiannor sebagai penemu berbagai alat yang dapat meringankan kerja manusia.

Bahkan Sugi, sapaan akrabnya, pernah menjuarai lomba teknologi tepat guna tingkat Kabupaten HSU yang diadakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa HSU. Temuan mesin penghancur gulmanya kini diikutkan lomba serupa di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. Mesin penghancur gulma itu bisa mengapung di atas rawa.

Sugi ternyata lulusan SMA. Tidak pernah kuliah di jurusan teknik mesin. Kesehariannya juga hanya seorang tukang bangunan. Sugi menceritakan munculnya ide kapal penghancur gulma ini saat melihat mesin pemotong rumput. Itu menginspirasinya untuk mewujudkan mesin lebih besar untuk menghancurkan gulma yang banyak mengapung di rawa Desa Jingah Bujur dan Haur Gading.

Setelah membuat rancangannya, Sugi memulai proyek yang juga didanai oleh Desa Jingah Bujur mulai awal tahun 2022. Pendanaan mencapai puluhan juta rupiah. Dimulai membeli pelat, melakukan pengelasan di tepi jalan desa, pemasangan mesin 27 Hp (horse power), dan pemasangan mata pisau sebagai penghancur di depan kapal yang bisa berputar melingkar.

“Pengerjaan sampai uji coba kurang lebih hampir tiga bulan. Prototipe ini akhirnya kami coba dan bisa mengapung. Berfungsi baik menghancurkan gulma yang menutupi aliran danau dan membuka akses transportasi klotok warga,” sampainya.

Kapal ini dapat membawa 30 orang dengan posisi berdiri. Namun saat beraktivitas membersihkan ilung, kapal ini hanya membawa tiga orang crew. Juru mudi, pengukur kedalaman, dan asisten operator mesin penghancur. “Ini masih tahap uji coba. Operasional menghabiskan 20 sampai 40 liter solar. Tergantung luas wilayah yang ingin dibersihkan,” jawab Sugi.

Dengan mesin ini diharapkan gulma bisa teratasi dalam membuat jalur klotok warga. Khususnya pada musim penghujan seperti saat ini, rawa dipenuhi eceng gondok.

“Untuk dipatenkan mungkin menunggu hasil lomba. Jika selesai kemungkinan saya akan patenkan,” jawabnya. Untuk diketahui, Sugiannor juga pernah menciptakan sepeda air dengan pengapung menggunakan pipa paralon.

Warga Kota Amuntai, Yasuf mengatakan sosok Sugi sebaiknya mendapat pendampingan dari dinas terkait. “Jarang ada orang punya kemampuan menciptakan alat sederhana, tapi hasilnya hampir menyamai alat buatan pabrikan yang berlisensi. Jadi seharusnya dapat dukungan,” pesannya.(az/dye)