Adit gusar. Mahasiswa 24 tahun yang tinggal di Kota Banjarbaru itu merasa larangan mengenakan sandal jepit saat bersepeda motor terlalu merepotkan. Menurutnya, agak ribet bila terus-menerus mengenakan sepatu. Bahkan terlihat agak konyol. “Masa semua dipukul rata. Bagaimana kalau membeli rokok ke warung? Atau makan ayam geprek dekat rumah?” gerutunya.

Tapi menjadi logis untuk mengenakan sepatu saat menempuh perjalan jauh. Semisal untuk mudik. “Kalau khusus untuk jarak jauh, baru masuk akal. Kalau jarak dekat dan semua harus mengenakan sandal, sumpah merepotkan,” cecarnya.

Reaksi serupa juga datang dari Yusran. Pedagang sayur keliling asal Cempaka. Menurutnya, tak semua jenis pekerjaan cocok mengenakan sepatu. Contoh dirinya yang keluar masuk kompleks-kompleks. “Enak pakai sandal, enggak panas dan gerah. Pakai sepatu juga mahal. Saban hari dipakai pasti rusak. Kalau sandal, semisal putus atau bulukan tinggal dibeli,” ujarnya.

Satu lagi, sandal jepit lebih bisa diandalkan saat hujan turun menerpa. Intinya, Yusran tak sepakat dengan polantas. Dia juga sangsi sandal jepit bisa memicu kecelakaan di jalan raya. “Kalau misalkan nanti ditilang karena memakai sandal, ya saya pasrah saja,” cetusnya.

Beralih ke kota tetangga. Fuad, warga Jalan Kuripan Banjarmasin Timur ini mengingatkan tidak semua orang memiliki sepatu. Contoh ayahnya. “Padahal beliau hanya bolak-balik ke pasar setiap pagi,” ujarnya. Dia juga geli membayangkan dirinya berangkat ke masjid untuk salat Jumat berjemaah dengan bersepatu. “Lucu juga ke masjid pakai sepatu,” imbuhnya terkekeh.

Berbeda dengan Alfian yang sudah terbiasa memakai sepatu ke mana-mana. Apalagi, ini pelengkap penampilan yang membuatnya merasa keren. “Kalau bagi anak muda seperti saya, tidak masalah,” ujarnya. 

Terpisah, Kapolres Banjarbaru AKBP Nur Khamid melalui Kasat Lantas Iptu Eko Guntar mengklarifikasi larangan mengenakan sandal jepit saat bersepeda motor. Ditegaskannya, itu cuma imbauan. Jadi kabar penilangan itu tidak benar. Seperti yang membuat gaduh jagat media sosial.

“Sifatnya hanya imbauan saja. Tidak ada seperti itu (penilangan),” jelasnya kepada Radar Banjarmasin. Ketika nanti polisi mendapati pemotor bersandal jepit, paling banter cuma ditegur secara halus. Tilang tak bisa diterapkan karena bukan terkategori pelanggaran lalu lintas. “Kendati bukan pelanggaran, mari berkendara dengan safety agar terhindar dari fatalitas,” pesannya.

Sekalian Saja DiaturPengamat transportasi dari Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Iphan F Radam menyebut wacana ini sangat baik. Ini demi keselamatan para pesepeda motor. Meski menurutnya masih perlu studi lebih lanjut.

Malah Iphan meminta, lekas saja dituangkan dalam sebuah aturan. Agar berkekuatan hukum dan memiliki sanksi. Tentu sebelum diterapkan perlu masa sosialisasi. “Pasalnya belum ada aturan dasar yang bisa digunakan sebagai acuan seperti hal penggunaan helm yang sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009,” cetusnya.Maka, menurutnya sudah pas jika Kakorlantas Polri mengawalinya dengan sebuah imbauan. Demi mengurangi risiko cedera saat kecelakaan, terutama pada bagian kaki pengendara. “Memang bagus, tapi sekali lagi harus studi lebih lanjut,” tutupnya. (rvn/mof/gr/fud)