Komisi V DPR dibuat geleng-geleng kepala saat meninjau kualitas proyek trotoar di Jalan Sekumpul, Kabupaten Banjar, (16/6). Rombongan legislator dari Senayan itu dipimpin Syaifullah Tamliha, Wakil Ketua Komisi V. Politikus asal Amuntai itu kecewa melihat jalur penyandang disabilitas di bawah kakinya. Dengan kesal, tanpa mengeluarkan banyak tenaga, Tamliha menarik lembaran karet berwarna kuning itu hingga terkelupas dari ubin trotoar.

Hanya ditempel dengan lem, jalur penuntun tuna netra itu sudah copot di sana-sini. Padahal umurnya belum enam bulan. Trotoar ini rampung dibangun akhir tahun lalu.

Proyek ini digarap Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. “Setelah kami cek, ternyata kualitasnya sangat memprihatinkan,” kata Anggota Komisi V, Sudewo. Maka, ia meminta PUPR untuk menindak tegas kontraktornya. “Agar diperbaiki. Jangan diterima hasil pembangunan ini sebelum sesuai dengan speknya,” tambahnya.

Trotoar Sekumpul menjadi bahan perbincangan setelah dicecar mantan Anggota DPRD Kalsel, Anang Rosadi lewat sebuah video yang menyebar di media sosial. Melihat secara langsung, Sudewo berani mengatakan, proyek revitalisasi Sekumpul jauh dari kata baik. “Tolong jaga marwah beliau. Guru Sekumpul merupakan tokoh besar nasional, bahkan Asia. Maka jangan sampai proyek ini dikapitalisasi untuk keuntungan pribadi,” tegasnya.

Saat ini, proyek itu belum diserahkan ke Pemkab Banjar. Karena masih dalam masa pemeliharaan. Revitalisasi sebenarnya baru memasuki segmen empat. Dari rangkaian segmen yang direncanakan sampai tahun 2023.

“Tapi sangat disayangkan, baru memulai, kualitasnya sudah tidak bagus. Ini harus menjadi bahan evaluasi bagi Kementerian PUPR. Supaya tidak terulang,” tutup Sudewo. Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Kalsel, Davis menjamin, kerusakan-kerusakan yang muncul pada segmen empat akan terus diperbaiki.

Dijelaskannya, saat ini sedang dikerjakan segmen tiga. “Sambil pengusulan segmen dua,” ujarnya. Ini masih jauh dari lokasi kubah makam Guru Sekumpul. “Nanti pada segmen satu dan dua, semakin dekat ke kubah,” jelasnya. Direktur Pengembangan Kawasan Permukiman (PKP) Dirjen Cipta Karya. Wahyu Kusumosutanto menambahkan, sebagai pelaksana mereka akan bertanggung jawab terkait kondisi ini.

“Masih masa pemeliharaan, jadi masih menjadi tanggung jawab kami,” janjinya. Namun, Wahyu mengelak soal jeleknya mutu proyek. Menurutnya, lintasan disabilitas itu bisa terkelupas lantaran banyaknya kendaraan bermotor yang melindasnya. “Secara desain akan kami sesuaikan. Supaya ke depan tidak lagi terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” tutupnya. (ris/gr/fud)