Banjir rob kembali melanda sejumlah kawasan di Kota Banjarmasin. Fenomena akibat air laut pasang itu mulai menggenangi jalan hingga ada yang masuk ke rumah warga.

Pantauan Radar Banjarmasin, Jumat (17/6) pagi, di depan Stadion 17 Mei, ketinggian air mencapai 10 cm – 15 cm. Para pengendara yang melintas harus berhati-hati mengendarai motor agar tak mogok. Pemandangan serupa juga terjadi di kawasan Rawasari. Jalan utama masuk ke kompleks perumahaan sudah digenangi air. 

Ifan, salah seorang pedagang di sana, mengatakan, banjir rob sudah beberapa hari terakhir terjadi. Tidak hanya menggenangi jalan. Tapi juga bisa sampai masuk ke dalam toko. “Sudah tiga hari ini banjir terus. Tidak lama, pagi naik, sore sudah turun,” ujarnya.

Meski genangan air di kawasan tersebut tidak berlangsung lama, tapi cukup mengganggu aktivitas. Ia berharap, kejadian seperti ini tidak sampai seperti banjir yang melanda 2020 lalu. “Khawatirnya seperti banjir lalu,” tutur Rani, warga lainnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin Fahrurraji mengungkapkan, sejumlah anggota sudah diturunkan untuk mendata dan memantau kawasan mana saja yang dilanda banjir rob.

“Petugas kami siaga 1 x 24 jam. Sebagian memantau titik-titik rawan banjir rob,” cetusnya. Letak geografis Banjarmasin yang berbatasan dengan laut, menurutnya, menjadi salah satu penyebab sejumlah kawasan sering dilanda rob. Misalnya di Jalan Japri Zamzam, Kelayan, dan Basirih.

Kondisi ini bagi masyarakat pesisir sungai sudah sering menghadapi banjir rob. Meski begitu jangan lengah, tetap waspada. Evakuasi barang berharga ke tempat yang lebih aman. Jika sewaktu-waktu terjadi rob, tidak ikut terendam.

“Kondisi di Banjarmasin itu pasang surut. Dulu kalau pasang yang masuk ke darat disebut warga pasang dalam, padahal namanya rob,” jelasnya.

Fahrurraji mengingatkan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banjarmasin, meningkatnya ketinggian air sungai Barito hingga menyebar ke anak sungai terjadi dari tanggal 15-18 Juni 2022. “Fenomena ini karena kita masuk fase bulan purnama. Kejadian ini karena gravitasi bulan,” pungkasnya. (gmp)