M Hafidz Halim seorang advokat asal Kotabaru mengunggah sebuah video klarifikasi pada Minggu (19/6), ia menyampaikan bantahan atas keterangan tersangka MN, yang terjerat kasus pengacara gadungan. Dimana MN menyebut dirinya turut menerima aliran dana dari kasus tipu gelap tersebut.

Video tersebut juga dinyatakan Hafidz Halim sebagai klarifikasi dan hak jawab, atas sejumlahpemberitaan yang terbit di media lokal dan nasional, setelah dirinya diperiksa sebagai saksi selama 15 jam, pada 7 Mei hingga 8 Mei 2022 jam 5 subuh, oleh penyidik Satreskrim Polres Kotabaru, terkait pengakuan tersangka.

“Jujur, saya tidak tahu sama sekali perihal dana sebesar Rp45 juta. Disini, saya hanya diminta untuk membantu kasus yang sebelumnya bukan saya yang menangani, melainkan pengacara sebelumnya adalah MNA dalam menangani kasus tingkat pertama,” jelasnya.

Dijelaskan Hafidz Halim lebih mendalam, kasus yang sudah menjadi benang kusut ini sampai ke dirinya pada tanggal 22 Februari 2022 yang dibawa oleh MN, tersangka penipuan.

Disitu lanjutnya, MN menjelaskan, yang kena kasus ini merupakan cucunya. Dan dia merupakan orang miskin, tidak mampu dan berharap untuk dibantu karena sudah diputus penjara tiga tahun enam bulan.

“Karena saya kenal dengan MN dan juga kasihan. Saya lantas membantu di tahap pengadilan tingkat dua (banding). Apalagi di kode etik pengacara tidak boleh menolak orang minta bantuan,” jelasnya.

Namun lanjutnya, hasilnya banding yang kami ajukan sama. Lalu kami kembali bantu ajukan kasasinya. Dan sekarang masih menunggu hasilnya.

Ditambahkannya, pemberitaan dirinya sebagai saksi di Satreskrim Polres Kotabaru sangat berdampak negatif baginya dan keluarga, serta profesinya sebagai seorang advokat. Karena ada bunyi pengacara gadungan.

“Yang pengacara gadungan itu bukan saya, melainkan MN. Seandainya saya, tidak mungkin saya bisa sampai bersidang sampai di Mahkamah Konstitusi (MK),” ujar Hafidz Halim yang menyebut pernah beracara di MK untuk membela salah satu pasangan Pilkada Kotabaru. (jum/bin)