PPDB jalur prestasi dan afirmasi pemilik Kartu Indonesia Pintar (KIP) sudah dibuka mulai 20-22 Juni 2022. Namun tidak semua sekolah membuka jalur itu. Misalnya SMPN 32 Banjarmasin.

Meski membuka jalur prestasi, ternyata tak ada satupun yang mendaftar. Itu terjadi beberapa tahun belakangan. Berkaca dari situ, sekolah yang terletak di Jalan Alalak Utara ini memilih tak lagi membuka pendaftaran. 

“Karena beberapa kali dibuka, pendaftar juga tidak ada,” ungkap Wakil Kepala SMPN 23 Banjarmasin Agus Widodo , Selasa (21/6) siang.

Dijelaskan, siswa yang mendaftar jalur prestasi lebih memilih sekolah di tengah kota, ketimbang di pinggiran. Tidak heran, jika kuota ruang belajar yang dibuka sekolahnya tidak terpenuhi  “Tahun lalu, dari tiga ruangan yang dibuka, hanya terisi dua saja,” ucapnya.  

Kendati demikian, Agus  menganggap kondisi tersebut wajar. Bahkan tak sedikit wali siswa memilih sekolah swasta untuk menyekolahkan anaknya. “Sudah lama terjadi seperti ini,” ungkapnya.

Pengamat pendidikan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Reza Fahlevi, melihat fenomena ini klasik. Setiap tahun selalu terjadi. Penyebabnya, karena tidak meratanya kualitas pendidikan. Terutama aspek sarana dan prasarana di sekolah.

“Paling menonjol itu, antara sekolah di tengah kota dengan sekolah di pinggiran,” ucapnya kepada awak media.

Misalnya, dari segi bangunan, kuantitas guru, sarana dan prasarana, sampai fasilitas penunjang pembelajaran. Namun, di sisi lain pemerintah sudah ada upaya menuju pemerataan kualitas dan kuantitas pendidikan.

Sebab itu, menurutnya, stigma sekolah favorit sangat sulit dihilangkan dari pola pikir masyarakat. Jika pemerataan itu belum terjadi. Para orang tua lebih tertarik menyekolahkan anak di sekolah favorit. 

“Makanya membuat para orang tua berlomba-lomba untuk mendaftarkan anak ke sekolah yang ada di tengah kota,” pungkasnya.

Dampaknya pasti terhadap sekolah di pinggiran. Tidak heran jika beberapa sekolah menghilangkan jalur prestasi, karena stigma tersebut masih melekat di pola pikir masyarakat. “Jarang sekali ada siswa yang berprestasi memilih sekolah di pinggiran,” pungkasnya. (gmp)