HUTAN Kota Banjarmasin punya cerita. Sebelum taman di samping Jembatan Merdeka itu menjadi kafe, sebelum Indonesia merdeka, dahulu merupakan pusat hiburan malam milik Belanda. Disebut Gedung Kapel. Berada di tepian Sungai Martapura, berseberangan dengan Benteng Tatas (sekarang Masjid Sabilal Muhtadin).

Oleh masyarakat Banjar, ia dicap sebagai tempat terlarang. Wadah berkumpulnya setan. Maka orang pribumi dilarang mengunjunginya. Demikian petikan petuah ulama Geemente (kotamadya) pada awal tahun 1900-an.

Mengapa Gedung Kapel begitu dibenci?

Dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengatakan, gedung ini memiliki nama resmi Societiet de Kapel. Berdiri di antara kantin serdadu dan perumahan orang Eropa. “Berdiri tahun 1898. Awalnya dibangun dengan arsitektur tradisional Banjar,” cerita Mansyur.

Tahun 1920-an, direnovasi dan gaya bangunannya berubah. Lebih sederhana dan minimalis. Sayang, tak ada data yang memadai perihal siapa arsiteknya. 

Keberadaan Gedung Kapel menjadi wajar. Karena Bandjermasin pada akhir abad ke-19 adalah kota besar yang terbuka dengan kontak budaya asing.

“Di sana ada perayaan tahun baru. Menjadi tempat pesta. Pesertanya berbicara dengan Bahasa Belanda. Datang dari kaum terpelajar dan golongan atas,” tuturnya.

Mansyur mengutip catatan sejarah yang ditulis Idwar Saleh dan diterbitkan tahun 1981. Bahwa Gedung Kapel memiliki arena bola sodok, ruang dansa dan tempat minum-minum. Maka, warga pribumi yang muslim, begitu membencinya. Menyebutnya sebagai tempat maksiat.

“Gedung ini pernah dijadikan tempat pesta perpisahan Residen Kroesen yang pensiun pada tahun 1898,” bebernya. Residen berarti seorang penguasa wilayah. Soal wujudnya, bisa ditengok pada foto karya GM Versteeg. Foto itu belakangan dipakai kartu bos terbitan Studio Hashimoto. Diterbitkan tahun 1920.

Sederhananya, inilah tempat para meneer (tuan) dan mevrouw (nyonya) dari pemerintah Hindia Belanda berpesta. “Tapi bukan sekadar tempat hura-hura atau dugem. Fungsinya juga menjadi tempat perkumpulan sosial,” kisahnya.

Hanya yang berpaham rasis yang bisa memasuki perkumpulan-perkumpulan semacam itu. Sebab, di Gedung Kapel ada aturan, selain kaki putih tak boleh menginjaknya. Kalau pun ada orang pribumi, hanya sebagai pelayan. Memasuki masa penjajahan Jepang, Gedung Kapel masih menjadi tempat hiburan malam.

Menginjak masa kemerdekaan, berubah menjadi kantor penerangan tentara. “Pada awal tahun 2000-an, gedung ini dirobohkan. Dijadikan hutan kota,” tutupnya. (lan/gr/fud)