SIRING Pierre Tendean tidak hanya memiliki Menara Pandang dan susur sungai naik kelotok. Di sana juga ada Rumah Anno 1925. Berada di tepian Sungai Martapura, terlihat kontras karena sepenuhnya dibangun dari kayu ulin. Rumah panggung ini berjenis palimasan. Salah satu varian rumah tradisional khas suku Banjar. Identik dengan atapnya yang berbentuk limas atau piramida. “Dulunya, rumah anno merupakan bangunan tua. Dibangun pada masa kolonial Belanda,” ujar Akbar Rahman, pengamat tata kota.

Sesuai namanya, rumah ini dibangun tahun 1925. Nyaris seabad yang lalu. Namun masih berdiri kokoh berkat pondasi yang apik. Bibir sungai dulunya dipadati permukiman. Pembebasan lahan dan pembongkaran dimulai sejak tahun 2007.

“Aktivis bangunan dari Ikatan Arsitek Indonesia lalu memberi saran kepada pemerintah agar Rumah Anno 1925 tidak diruntuhkan,” beber Ketua Prodi Arsitek Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu. Dalam dunia arsitektur, bangunan yang mampu bertahan lebih dari 50 tahun termasuk dalam kategori pusaka. Sedangkan rumah ini sudah menginjak umur 82 tahun pada saat itu. “Harus dipertahankan,” imbuhnya.

Keunikan lain, rumah ini terdiri dari dua lantai. Tidak lazim. Menurut Akbar, ini merupakan pengaruh gaya kolonial.“Karena rumah tradisional Banjar sejatinya tidak ada yang dua lantai. Sedangkan rumah ini termasuk perpaduan antara gaya Banjar dan pengaruh kolonial,” tuturnya. 

Pemko kemudian merenovasi Rumah Anno 1925 dan rampung tahun 2015. Nyaris 80 persen material diganti. Tanpa mengubah bentuk autentiknya. “Dan masih memakai kayu ulin,” tambahnya.

Selain itu, letak aset budaya Banjar ini strategis. Berada di jantung kota. Suasananya pun nyaman. Makin komplet dengan pemandangan sungai Martapura.

“Banyak keunikan dari Rumah Anno 1925, sehingga saya putuskan menjadikannya sebagai disertasi saya,” ucapnya. Kemarin, Radar Banjarmasin mampir ke sana. Namun sayang rumah ini sedang ditutup, lantaran ada proyek perbaikan di teras samping.

Namun, penulis masih punya gambaran jelas. Mengenai tampilan bagian dalam bangunan tua itu. Saat berkunjung, turis akan disambut oleh resepsionis. Setelah mengisi buku tamu, turis diarahkan ke dalam. Lantai dasar digunakan untuk pameran foto-foto bersejarah. Juga terdapat pajangan jukung tambangan, sampan tradisional. Sisi lain terdapat pajangan motif-motif paten kain sasirangan. Berikut berbagai jenis material yang dipakai untuk menenunnya. 

Termasuk bahan-bahan dasar pewarna alami dipajang di sana. Seperti bubuk kunyit, kayu ulin, daun jati, daun ketapang, kulit rambutan, jalawe dan banyak lagi.

Selain itu juga terdapat pelaminan pengantin mini. Pelaminan yang didekorasi dengan gaya khas Banjar zaman dulu. Didominasi oleh kain-kain berwarna kontras, lengkap dengan ornamen arguci yang mencolok. Area ini kerap dijadikan sebagai photobooth. Pengunjung biasanya berfoto di pelaminan ini silih berganti.

Sedangkan di bagian tengah ruang terdapat panggung mini. Area ini kerap dijadikan sebagai tempat diskusi, seminar dan sejenisnya.

Rumah Anno 1925 juga dimanfaatkan menjadi sekretariat Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Banjarmasin. Tepatnya di lantai atas.

Dekranasda menampung berbagai hasil kerajinan usaha kecil dan menengah yang ada di Kota Seribu Sungai. Terdapat berbagai kerajinan yang bisa dijadikan sebagai buah tangan. Ada kain sasirangan, aksesori, tas purun, baju, hiasan interior dan masih banyak lagi.

Selain untuk rekreasi dan belajar, rumah Anno 1925 ini juga kerap dijadikan sebagai tempat workshop. (tia/gr/fud)