TANGGAL 28 Juni jadi hari yang bersejarah. Untuk pertamakali, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PTAM Bandarmasih digelar. Dari banyak agenda yang dibahas, ada rencana mengejutkan. Menaikkan tarif air leding.

Jajaran direksi PTAM Bandarmasih berikut para pemegang saham, baik dari Pemko Banjarmasin maupun Pemprov Kalsel, melangkah pelan menuruni tangga dari ruang rapat.

Di lantai dasar di gedung kantor PTAM Bandarmasih, sudah banyak wartawan yang merubung. Menanti hasil RUPS yang diagendakan sedari jam 09.00 pagi, hingga jam 13.00 siang itu. 

Perwakilan Pemprov Kalsel, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Syaiful Azhari, yang turun lebih dulu. Ia meminta awak media untuk tidak mewawancarainya.

Syaiful mengarahkan agar langsung wawancara dengan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina beserta jajaran direksi PTAM Bandarmasih saja.

“Dengan pak Ibnu saja ya,” ucapnya, seraya meninggalkan gedung PTAM Bandarmasih, Selasa (28/6) siang.

Tak berapa lama, didampingi jajaran direksi PTAM Bandarmasih, Ibnu Sina tiba di lantai dasar. Kepada wartawan, ia menyatakan setidaknya ada beberapa agenda yang dibahas dalam RUPS. Salah satunya rencana kerja dan bisnis perusahaan.

Seperti, pembangunan reservoar hingga pembentukan panitia seleksi (Pansel) untuk perekrutan komisaris baru. “Jabatan ini berakhir bulan September 2022 mendatang. Sehingga disetujui juga untuk membentuk pansel,” jelasnya.

Di sisi lain, yang cukup menarik perhatian dari yang diungkapkan Ibnu, adalah soal adanya penyesuaian tarif air leding. Lebih mudahnya, penyesuain yang dimaksud adalah kenaikan tarif. 

Dibeberkan Ibnu, sesuai arahan kuasa hukum Gubernur Kalsel, yakni Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Syaiful Azhari, juga dijelaskan tentang Surat Keputusan (SK) Gubernur Kalsel Nomor 118.

Isinya terkait tentang penetapan besaran tarif batas atas dan tarif batas bawah air minum. Dari SK itu pula, PTAM Bandarmasih lantas mencoba melakukan penyesuaian.

“Karena, selama ini, yang mungkin belum disampaikan secara keseluruhan oleh direksi adalah terkait biaya produksi,” ucapnya.

Ibnu mengungkapkan, dari perhitungan yang ada, selama ini PTAM Bandarmasih menjual air minum perkubik dengan harga yang merugi. Solusinya perlu dicarikan. Salah satunya, adanya penyesuaian tarif baru.

“Kami mencoba menyesuaikan dengan SK itu. Dan dalam hitung-hitungan tadi, ada kenaikan rata-rata 10 persen,” ungkapnya.

Contoh, untuk tarif Kelompok 1, bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dari tarif perkubik Rp 1.030, ada kenaikan Rp 100 per kubik. Sehingga menjadi Rp 1.130 per kubik.

Ia berharap, penyesuaian tarif bisa segera diproses secara administrasi. Sebab, RUPS sudah memutuskan menyetujui.

Kapan rencana kenaikan itu diumumkan, Ibnu menyatakan ada kemungkinan dimulai pada bulan September mendatang. Mengingat, direksi PTAM Bandarmasih perlu menyiapkan kelengkapan administrasi terlebih dahulu. Ada konsultasi publik dan dengar pendapat dengan DPRD Banjarmasin. 

“Tapi, secara prinsip kenaikan tarif sudah disetujui di RUPS. Supaya kinerja PTAM Bandarmasih bisa lebih baik lagi,” pungkasnya.

Dirut PDAM Bandarmasih Yudha Achmadi membenarkan bakal ada kenaikan tarif air leding. Alasannya, berdasarkan hasil audit di tahun 2021, biaya produksi yang dikeluarkan lebih besar daripada biaya yang didapat dari penjualan air.

“Kasarnya, kami jual rugi ke pelanggan. Makanya harus segera disesuaikan. Apalagi, sekarang sudah ada SK Gubernur Kalsel tentang Penetapan Besaran Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah Air Minum,” tuturnya.

Semua jenis pelanggan, menurut Yudha, dinaikkan 10 persen. Namun untuk kelompok 1 dan 2, kenaikan tarif rata-ratanya masih di bawah harga batas bawah. Sedangkan kelompok 3, kenaikan tarif sesuai dengan yang tertera di SK Gubernur Kalsel.

“Mudah-mudahan bisa berjalan lancar, dan mendapat dukungan dari semua pihak. Terutama dari pelanggan,” harapnya.

Yudha menyebut, alasan lain terkait dinaikannya tarif air leding, juga disebabkan ada rencana pekerjaan yang memang harus segera dilakukan. Utamanya, untuk perbaikan pelayanan ke masyarakat. Khususnya, di kawasan Kecamatan Banjarmasin Utara dan Barat.

“Ada sejumlah perbaikan. Misalnya rencana pemasangan pipa ke Sutoyo S dan pemasangan reservoar di Sungai Andai,” cetusnya.

Untuk beberapa perbaikan itulah, tambah Yudha, perusahaan perlu biaya untuk memenuhi pelayanan. “Intinya demi perbaikan layanan,” pungkasnya. (war)