Banjir rob yang melanda Kota Banjarmasin diklaim tidak berdampak pada lahan pertanian. Realitas itu berdasarkan hasil pantauan Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Banjarmasin M Makhmud menjelaskan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan adanya kerusakan lahan pertanian yang diakibatkan banjir rob. “Petani kita masih bisa menyesuaikan. Sehingga terendam pasang tidak terpengaruh,” ucapnya.

Dijelaskan, hingga sampai saat ini, petani di Banjarmasin masih melakukan masa tanam dengan jenis bibit lokal. Sehingga, kondisi pertanian di kota ini tidak sama dengan di kabupaten/kota lain.

“Kabupaten/kota lain itu menggunakan bibit unggul. Jika terjadi pasang akan terganggu. Akibatnya bisa gagal panen,” katanya.

Kapan musim panen terjadi di Banjarmasin, Makhmud memperkirakan pada bulan September hingga Oktober 2022. “Produksi sekitar 6 ton padi. Dengan total luas lahan pertanian sekitar 2.000 hektare. Umumnya berada di kawasan Tanjung Pagar, Sungai Gampa dan Sungai Lulut,” jelasnya.

Kendati demikian, menurut Makhmud, jumlah tersebut hanya cukup untuk memenuhi keperluan masyarakat di Kota Banjarmasin. “Untuk memenuhi kebutuhan kita kerap dibantu daerah tetangga. Salah satunya Kabupaten Barito Kuala,” pungkasnya.

Diwartakan sebelumnya. Meski sudah memasuki musim kemarau, Kota Banjarmasin masih dihantui ancaman banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin Fahruraji mengatakan, ancaman itu ada, lantaran posisi kota ini yang dikepung tiga daerah tetangga.

Seperti Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Batola. Tiga daerah itu berpotensi mengirim debit air tambahan ke Sungai Martapura. (war)