Permintaan hewan kurban di Kabupaten Balangan turun drastis. Apalagi kalau bukan gara-gara wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Keluhan itu diutarakan Budi, pedagang sapi asal Kecamatan Paringin. Biasanya, sebulan sebelum Iduladha, pemesan sapi sudah membludak.

Tahun ini justru sepi. “Biasanya menjual sampai 25 ekor lebih. Tahun ini, baru laku enam ekor,” ujarnya lemas. Begitu virus itu mewabah di Kalsel, Budi sudah cemas. Akhirnya, ia tak berani mengambil risiko.Tak lebih dari sepuluh ekor yang ia stok. Menurutnya, lebih baik untung sedikit ketimbang buntung.

“Kapasitas kandang saya lumayan besar. Sekarang, saya hanya berani menampung 10 ekor sapi,” sebutnya. Harga sapi di Balangan juga melonjak. Sebelumnya pada kisaran Rp12 juta per ekor, kini sudah Rp15 juta. “Tapi mau tak mau tetap dibeli, karena sudah diniatkan mau berkurban tahun ini,” kata Hasan, salah seorang pembeli. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Perikanan dan Peternakan Balangan, Ir Tuhalus menjamin, sampai hari ini belum ditemukan kasus PMK di wilayahnya.

“Kesehatan sapi di Balangan dijamin aman. Karena sudah disuntik vitamin. Khususnya pada 18 penyedia sapi yang terdaftar di dinas,” jelasnya. Soal kenaikan harga, pemkab berupaya menekannya dengan mendatangkan pasokan dari luar daerah.

“Kebutuhan sapi di Balangan setiap Iduladha mencapai 490 ekor. Sementara saat ini terdata baru ada 250 ekor. Sisanya perlahan kami datangkan,” tutup Tuhalus. (radarbanjar)