Kenalan yuk, sama Fransisca Octaviani Hardiputri. Dara manis berdarah Banjar ini mewakili Kalimantan Selatan di ajang Pemilihan Puteri Indonesia 2022, Mei tadi. Ajang itu dimenangkan Laksmi De Neefe Suardana asal Bali. Meski begitu, Fransisca tidak pulang dengan tangan kosong.

Dari 44 peserta, perwakilan seluruh Indonesia, ia meraih predikat Puteri Indonesia Intelegensia III. Salah satu gelar bergengsi yang dinobatkan Yayasan Puteri Indonesia bagi putri yang dinilai memiliki kecerdasan tinggi. Maka, ketika nama Kalsel dipanggil pada malam itu, pendukung dan penonton yang yang memenuhi Jakarta Convention Center (JCC) bergemuruh. “Sempat bengong, karena Kak Choky Sitohang menyebutnya cepat banget. Ternyata benar,” tutur perempuan yang akrab disapa Chika itu.

Atas predikat ini, Chika berhak mendapat beasiswa pendidikan S2 di IPMI International Business School, fasilitas fitness, sponsor makeup selama setahun, dan banyak lagi. Bukan perjalanan mudah. Ada banyak tahapan hingga Chika bisa sampai ke ajang yang berumur 30 tahun itu. Dalam Puteri Indonesia, ada yang namanya 3B. Singkatan dari Brain, Beauty and Behavior. Ketiga hal itu menjadi parameter penilaian.

Terlebih, menyandang selempang daerah merupakan tanggung jawab besar. “Tidak hanya membawa diri sendiri, tapi merepresentasikan daerah dari segala aspek,” tegasnya. Setiap putri harus membawa advokasi bernuansa kedaerahan. Chika sendiri menggagas Pelangi. Kependekan dari ‘Pendidikan Alam, Petarung Mimpi’.

Pelangi bertujuan untuk mendidik anak-anak kurang mampu untuk belajar bersama di alam terbuka. Ide ini terinspirasi dari pengalamannya saat pertukaran pelajar di Jerman. “Di sana, anak-anak terbiasa belajar di ruang terbuka,” bebernya. 

Petarung mimpi sendiri adalah bentuk motivasinya kepada anak-anak dan perempuan. Agar tak takut bermimpi besar. Berkaca pada pengalaman masa kecilnya yang senang menggambar rumah. Hingga akhirnya, kini Chika mendalami passion-nya di dunia arsitektur.Rangkaian lain dalam karantina Puteri Indonesia, Chika tampil memukau dalam pertunjukan kostum tradisional.

Kali ini, Kalsel mengangkat tema The Mistery of Saranjana. Karya desainer kenamaan asal Bali, Inggi Indrayana Kendran. Bagi warga Kalsel, Saranjana adalah kota gaib di tengah rimbunnya hutan Kalsel. Kota ini diyakini sebagai peradaban maju dengan bangunan-bangunan pencakar langit yang gemerlap. Terletak di bagian selatan Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru. “Tertarik mengangkat Saranjana, selain kental dengan nuansa Kalsel, juga masih ada hubungannya dengan arsitektur,” ujarnya.

Chika juga tampil enerjik dalam malam unjuk bakat. Berbeda dari yang lain, ia menari balet dengan diiringi musik Ampar-Ampar Pisang. Pemandangan menarik bagi penonton dan pengunjung Mal Gandaria City Jakarta saat itu. Ia merasa bangga telah dipercaya mewakili Kalsel hingga ke tingkat nasional. Chika berharap, langkahnya mampu membawa energi positif bagi pemuda-pemudi Banua.

“Semoga membawa kebaikan bagi anak-anak, pemuda dan perempuan di Kalsel,” ucapnya. Kepada Radar Banjarmasin, Chika bercerita banyak tentang diri, mimpi dan harapan. Sebagai sarjana arsitektur Universitas Trisakti yang kini berprofesi sebagai arsitek. Berbagai proyek ia kerjakan. Chika sudah terbiasa dengan mekanisme kerja yang berat. Mulai dari perencanaan, desain hingga turun ke lapangan.

Sisi lain, Chika juga menaruh hati pada dunia entertainment. Parasnya sudah berkali-kali tampil di layar kaca. Terlibat dalam penggarapan film televisi di saluran nasional. Bakatnya tak hanya pada dunia acting, tetapi juga modelling. Berpose di depan kamera sembari menampilkan kelebihan produk atau busana sudah menjadi keseharian.

“Aku merasa beruntung punya keluarga yang sangat supportif dalam minat dan bakatku,” ungkapnya. Sekilas tentang profil Chika. Darah Banjar mengalir dalam dirinya, berasal dari sang kakek yang merupakan orang asli Banua. “Tahun 70-an kakek saya pernah menjabat sebagai kepala dinas pekerjaan umum provinsi,” tuturnya. (tia/gr/fud)