Sudah 77 tahun Indonesia merdeka. Namun pendidikan belum merata. Ketimpangan pendidikan di kota dan pedalaman terpampang jelas.

JAMALUDDIN, Barabai

MENGAMBIL momen 17 Agustus, komunitas Akar Bukit berbagi kebahagiaan bersama pejuang pendidikan di Dusun Mangga Jaya Desa Aing Bantai Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). 

Bantuan yang diserahkan berupa 34 paket berisi kaus, buku tulis, buku gambar, buku bacaan, alat tulis, bola sepak dan bendera merah putih.

“Diserahkan untuk SDN Aing Bantai yang merupakan sekolah filial Batu Perahu dan sekolah paket A Mangga Jaya. Sesuai keperluan yang sudah disurvei,” kata koordinator Muhammad Hidayatullah, Rabu (17/8).

Ini aksi nyata para pemuda Barabai. Membantu pendidikan di pedalaman Pegunungan Meratus. “Ini dusun terjauh di HST dengan jarak sekitar 73 kilometer dari pusat kota. Di sana hanya ada sekolah paket A yang sangat minim dukungan,” tambahnya.

Menurutnya, ketimpangan pendidikan terlihat nyata di sana. Bagaimana tidak? 75 persen warga desa masih buta aksara.  Penduduk desa ini berjumlah 61 kepala keluarga atau 203 jiwa. “Masalahnya bukan warga yang terlambat sekolah, tetapi sekolah yang terlambat masuk,” tegasnya.

Di Mangga Jaya juga tak ada guru PNS. Hanya guru honorer. Jumlahnya empat orang. Mereka digaji antara Rp1,5 juta sampai Rp3,5 juta per bulan. “Tapi pengakuan guru-guru sering telat dibayarkan,” bebernya. Akses menuju desa memang berat. Penjajakan awal dimulai pada ekspedisi 2-12 Agustus tadi. Perjalanan dari pusat Barabai menuju Dusun Mangga Jaya itu memerlukan waktu empat hari.

Pertama, dari Barabai menuju Desa Atiran menggunakan sepeda motor sekitar 40 kilometer, estimasi satu hingga dua jam. Kemudian, lanjut menuju Desa Batu Perahu. Jalan sudah mulai terjal, sebagian masih tanah berbatu. Disarankan mengendarai motor trail, bila berjalan kaki bisa sampai delapan jam. “Sampai di Batu Perahu sudah sore. Kami pun menginap di rumah warga satu malam,” ceritanya.

Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki jalan setapak. Dari Desa Batu Perahu menuju Dusun Datar Tarap membutuhkan waktu delapan jam. “Sampai di sana, kami pun istirahat di kantor kepala desa,” tambahnya. 

Selanjutnya, tim yang berjumlah 10 orang melanjutkan perjalanan dari Dusun Datar Tarap menuju Dusun Aing Bantai, perlu dua hari lagi.Sempat beristirahat di pondok tengah hutan karena kelelahan yang teramat sangat.

“Sampai di Dusun Mangga Jaya Desa Aing Bantai, kami mengajar di kelas, berbagi motivasi dan bermain gim interaktif selama tiga hari,” jelasnya.

Sementara itu, Nurdin, tutor sekolah paket A Mangga Jaya ini membenarkan betapa minimnya dukungan untuk pendidikan di sana. Bahkan, pembelajaran saja masih menggunakan fasilitas Balai Adat. Terkadang menumpang rumah warga. “Karena ketiadaan bangunan pendidikan,” jelasnya.

Kendati demikian, peserta didik antusias untuk belajar. Terkadang hingga malam ada saja yang mendatangi rumah tutornya.“Kasus buta aksara di sini masih tinggi. Pendidikan di sini terlambat masuk. Semoga semakin banyak orang-orang yang peduli terhadap pendidikan di Meratus,” tutupnya. (gr/fud)