Jembatan Pulau Bromo dibangun sejak tahun 2020. Kemudian diresmikan 4 Januari 2021 lalu. Bentuknya jembatan gantung, panjangnya 164 meter.Pembiayaan pembangunan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Banjarmasin sebesar Rp40 miliar.

Dari segi desain, infrastruktur ini cukup mencolok. Menaiki jembatan dari sisi Mantuil, pengendara dimanjakan dengan lantai yang meliuk. Dari bawah, hampir tampak seperti roller coaster saja.

Tapi, akan berbeda bila hampir tiba di seberang alias Pulau Bromo. Pengendara dihadapkan dengan turunan yang cukup curam. Di bagian itulah, banyak pengendara yang mengalami kecelakaan. 

Kepala Bidang Jembatan dan Jalan di Dinas PUPR Banjarmasin, Dedy Hamdani, mengaku, sudah mengetahui seringnya terjadi kecelakaan di sana. 

Namun, ia tak ingin Jembatan Bromo yang selalu dijadikan kambing hitam atau penyebab insiden tersebut.

“Jangan dilihat jembatannya saja yang salah. Coba tengok juga, bagaimana pengendaranya,” kata Dedy, ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (18/8).“Kabarnya remnya blong. Jadi mau diperbaiki bagaimana pun jembatan, pasti kecelakaan juga. Karena rem tidak berfungsi. Jadi kita imbangkanlah,” tekannya.

Ia membuka fakta. Dari kronologis video yang viral disana. “Saya lihat video itu kendaraannya oleng. Penumpang di belakang gera-gerak dan main handphone,” tambahnya.Meski demikian, ia berjanji akan mengecek lagi kondisi jembatan tersebut. Mengingat, pihaknya sudah meletakkan rambu-rambu di sana.

“Kami berharap pengguna jembatan bisa melihat juga kondisinya. Patuhi rambu yang ada. Cek kondisi kendaraan. Bukan lalu menyalahkan jembatannya. Kita evaluasi sama-sama,” tegasnya. 

Lantas, bagaimana dengan rencana menambah kekasaran lantai turunan jembatan? Dedy menyatakan, kondisi turunan jembatan itu masih bagus. Bahkan, belum aus.“Genangan di bagian bawah jembatan juga telah dibersihkan. Pada intinya, kami juga berharap bagi pengendara yang melintasi jembatan memeriksa dahulu kendaraannya,” pungkasnya. (war)