Kenaikan harga telur ayam di Kalsel masih dikeluhkan oleh konsumen. Namun demikian, kenaikan harga tersebut tak mengurangi tingkat konsumsi telur ayam di Kalsel.

Bahkan, kerap kali terjadi peningkatkan jumlah konsumsi telur ayam, terutama apabila ada momen-momen tertentu. Berdasarkan data dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Kalsel, dalam sehari masyarakat Kalsel memerlukan sedikitnya 140 ton telur ayam.

“Tingkat konsumsi telur ayam di Kalsel memang sangat tinggi. Bahkan, ketika harga telur ayam mengalami kenaikan, permintaan di tingkat konsumen tidak mengalami penurunan,” sebut Sugeng, Ketua Umum Pinsar Kalsel, belum lama tadi.

Sugeng menuturkan kenaikan harga telur ayam tidak hanya terjadi di Kalsel, melainkan terjadi secara nasional hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Penyebab utama kenaikan harga telur ayam tersebut adalah kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP). 

“Bahan baku pakan ternak seperti jagung, tepung ikan, dan bungkil kedelai sekarang juga semakin naik harganya. Sehingga, para pemasok telur ayam mau tak mau harus menyesuaikan harga, yang kemudian terjadi kenaikan harga di tingkat pengecer atau pedagang. Kenaikan harga telur saat ini memang tinggi, namun masih dapat diterima pasar,” paparnya.

Ditambahkan Sugeng, konsumsi telur ayam di Kalsel sebesar 140 ton per hari masih bisa diatasi dan dipastikan pasokannya aman. Pasalnya, produksi telur ayam di Kalsel mencapai Rp175 ton per hari. “Jadi, tidak perlu khawatir, kebutuhan telur ayam buat konsumen lokal di Kalsel pasti bisa terpenuhi setiap harinya. Bahkan, kelebihan pasokan telur di Kalsel kemudian didistribusikan ke provinsi tetangga yakni Kaltim dan Kalteng,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kalsel, H Birhasani mengimbau agar masyarakat Kalsel tetap tenang dalam menghadapi kenaikan harga telur ayam. “Tidak perlu panic buying apalagi sampai menyimpan stok telur ayam secara berlebihan. Ingat, telur ayam kan bisa membusuk kalau disimpan terlalu lama. Pedagang saya pastikan juga enggan menimbun telur ayam, karena harganya bisa saja tiba-tiba terjadi penurunan,” tandasnya.(oza)