Berkeliling Kota Banjarbaru dengan sepeda motor butut, Sumarto menjajakan mainan. Dia sangat kecewa dengan niat pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

BANJARBARU – Motor bebek keluaran tahun 2000 itu terkenal irit dan bandel. Untuk seharian berkeliling, Sumarto hanya memerlukan seliter bensin. “Kalau di pom bensin (SPBU) saja sudah naik, apalagi di eceran. Jujur, rasa-rasanya sudah tak kuat,” keluhnya (30/8). 

Sinyal kenaikan harga BBM semakin menguat setelah presiden menyatakan ada pembagian bansos untuk meringankan dampaknya. Sumarto mendengar berita itu dari temannya, seorang penarik ojek di kawasan Taman Minggu Raya.

Sebagai pedagang mainan kecil, penghasilan harian Sumarto sudah tak menentu. “Makin hari makin sulit saja. Karena banyak pengusaha besar mainan yang masuk, punya toko dengan harga lebih murah,” curhatnya. Sama halnya dengan kekecewaan Arif. Mahasiswa asal Hulu Sungai ini terpikir untuk memboyong sepeda kayuh di kampung halamannya ke Banjarbaru. 

Demi berhemat, agar uang jajan bulanannya tak semakin pas-pasan. “Orang tua saya hanya petani, pasti sulit hendak menambah uang jajan,” ungkapnya.

Arif mengandalkan motor untuk bolak-balik dari kos ke kampus. “Jatah uang untuk membeli bensin cuman Rp200 ribu sebulan. Kalau harga pertalite naik, sudah pasti tidak cukup,” tambahnya.

Dia juga mengkhawatirkan munculnya antrean mengular di SPBU. Karena solar dan pertalite habis diburu oleh pelangsir. Mumpung harganya belum naik.

Pantauan Radar Banjarmasin, serbuan itu belum terlihat. Di SPBU Jalan HM Cokrokusomo atau persimpangan Cempaka menuju kantor gubernur misalnya, jalur pertalite masih tampak normal.

“Biasanya kalau mau naik harga, antrean mobil mengular sampai ke jalan. Sekarang masih biasa saja,” kata BS, salah seorang operator SPBU. “Pasokan BBM-nya juga masih lancar,” sambungnya.

Beralih ke SPBU Coco di Jalan A Yani kilometer 34, memang tampak antrean, tapi tidak parah. “Paling pas jam-jam berangkat atau pulang kerja. Lalu akhir pekan juga banyak. Tapi saat ini boleh dikata masih normal,” cerita SR, salah satu operator SPBU. 

BLT Saja Tak Cukup

Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) mengingatkan, kenaikan harga BBM bakal berdampak luas. Seluruh harga barang kebutuhan pokok sudah pasti ikut-ikutan naik.

“Beban hidup masyarakat bertambah,” kata Ketua YLK Kalsel, Ahmad Murjani kemarin.

Dia memahami, pemerintah hendak mencegah jebolnya APBN akibat belanja subsidi yang terlalu besar. Maka, YLK menuntut solusi. Dan bansos saja menurutnya belum cukup.

“Disamping BLT (bantuan langsung tunai), semestinya diusulkan regulasi untuk mengikat pengusaha,” tambah akademisi di Universitas Cahaya Bangsa ini.

Regulasi yang mewajibkan perusahaan untuk menyesuaikan gaji karyawan. Sebab, selama ini aturan upah minimum regional (UMR) nyatanya tidak memuat sanksi tegas.

Lebih mirip imbauan, sebatas kemampuan pengusaha. “Aturan dari pusat, turunannya ditegaskan melalui surat edaran kepala daerah,” tutupnya. (rvn/gmp/gr/fud)