Petani karet di Kecamatan Salam Babaris Kabupaten Tapin mengeluh. Lantaran harga jual karet merosot. Sekarang mereka hanya bisa pasrah.

Syamsul Hadi salah satunya. Petani karet asal Desa Pantai Cabe ini menduga-duga penyebabnya. “Sebab sebelumnya harganya lumayan. Tetapi setelah harga BBM naik, karet jadi anjlok,” ujarnya. 

Pria 57 tahun ini menyebutkan, harga karet sekarang sekitar Rp6 ribu per kilogram. Turun sekitar Rp2 ribu sampai Rp3 ribu dari harga sebelumnya. “Dengan harga segini, tentu kami kesusahan. Penghasilan bulanan yang biasanya mencapai Rp2 juta sampai Rp3 juta, turun tersisa sejuta saja,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tapin, Wagimin membenarkan harga karet yang merosot itu. Tetapi bukan akibat kenaikan BBM, tidak ada kaitannya. 

Melainkan harga karet di pasar internasional yang sedang tak menentu. “Jadi harga karet menurun karena terdampak perekonomian global sekarang ini,” jelasnya.

Luasan kebun karet di Tapin ada 6.822 hektare. Tersebar di Kecamatan Tapin Selatan, Salam Babaris, Binuang, Hatungun, Piani, Tapin Utara dan Bungur.

“Dari 6.822 ha tersebut, hanya 60 persen yang masih produktif,” ujarnya.

Maka, pemkab sedang menggalakkan peremajaan lahan karet. Tujuannya untuk menaikkan mutu karet petani Tapin, sehingga bisa memenuhi standar yang diminta pasar.

“Programnya masih disiapkan. Yang jelas setiap petani karet akan didorong agar pohon karet yang sudah tua, bisa diremajakan,” pungkasnya. (dly/gr/fud)