Pemerintah berencana mengganti pemakaian kompor gas dengan kompor listrik. Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi di luar Jawa yang mengikuti uji coba program tersebut.

Manager Komunikasi PT PLN UIW Kalselteng, Winardi mengatakan, uji coba di Kalsel untuk sementara menyasar Kota Banjarbaru. “Rencananya Banjarbaru akan menjadi pilot project di Kalsel pada tahun ini,” katanya kepada Radar Banjarmasin, (19/9).

Disebutkannya, ada 30 ribu kompor induksi yang akan dibagikan kepada para penerima manfaat di ibu kota provinsi ini. “Sekarang masih proses pengadaan,” tambahnya. 

Ada dua kategori penerima manfaat yang akan menerima kompor listrik gratis ini. Yakni, pelanggan golongan tarif rumah tangga berdaya 450 VA dan 900 VA yang terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan Non DTKS milik Kementerian Sosial. 

Serta, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan pelanggan tarif bisnis dan industri dengan daya 450 VA-5500 VA.

“Pembagian kompor induksi nanti melalui kelurahan masing-masing,” ujar Winardi.

Ia menuturkan, kompor listrik yang dibagikan memiliki daya antara 800 sampai 1200 watt. “Nanti instalasi untuk pemakaian kompor induksi terpisah dari instalasi rumah, jadi pelanggan daya 450 VA tetap bisa menggunakannya,” jelasnya.

Konversi ini menurutnya penting untuk mengurangi impor gas LPG. Di tengah masyarakat, sudah pasti menuai pro dan kontra. Salah seorang warga Guntung Manggis, Banjarbaru, Riswan Hadi mengaku khawatir. “Takutnya pas mau memasak, ternyata listriknya padam,” ucapnya. Dia meminta pemerintah tidak terburuburu. Perkuat dulu kelistrikan Kalsel, baru berpikir untuk menghilangkan kompor gas.

“Karena kalau listrik masih byarpet, kasihan warganya tidak bisa memasak,” tambahnya.

Sisi lain, Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Arifin mengapresiasi PLN yang menjadikan kotanya sebagai percontohan program konversi ini. “Ini membantu menjawab keluhan masyarakat. Katanya kan tabung gas 3 kilogram susah didapat dan mahal di Banjarbaru,” ujarnya.

Dia juga berharap, kompor listrik ini lebih aman. Mengurangi risiko kebakaran akibat kebocoran gas.

“Kami berharap konversi inidapat mengurangi beban masyarakat, terutama yang selama ini kesulitan mencari gas melon. Sekaligus dapat mengurangi pengeluaran masyarakat, karena kompor listrik lebih hemat, sehingga daya beli masyarakat dapat meningkat,” pungkas mantan Anggota DPR RI itu. (ris/gr/fud)