Rico Hasyim, anak angkat Van Der Pijl dirundung kesedihan. Menyaksikan rumah di Jalan Ahmad Yani km 35, seberang Taman Bougenville itu mulai dihancurkan.

Pada masa kecilnya, Rico kerap bermain di halaman rumah yang dihuni arsitek asal Belanda itu. “Rumah itu ditinggali Van der Pijl sekitar tahun 50-an. Di sini beliau tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Bahkan hingga meninggal, beliau berada di sini, saya sendiri saksinya,” kata Rico kepada Radar Banjarmasin (19/9).

Melihat pembongkaran itu, perasaan pria 62 tahun ini campur aduk. Sedih dan marah berkecamuk menjadi satu, “Sakit sekali hati saya melihatnya.” 

Rumah itu dijual ahli waris sekitar tahun 2014-2015. Pembeli pertamanya dealer mobil. Seiring waktu, berpindah tangan lagi. “Infonya dibeli seorang pengusaha lokal. Rumornya mau dibikin ritel, entah benar atau tidak. Yang jelas rumah itu sekarang sudah tak berbentuk,” ujarnya.

Saat hendak dijual, ahli waris sebenarnya berharap pembelinya adalah pemerintah kota. Tapi harapan itu bertepuk sebelah tangan. 

Rico sendiri sudah beberapa kali mengusulkan agar rumah itu dijadikan aset pemerintah. Namun sudah berganti beberapa kepala daerah, jawabannya selalu senada.

“Saya mengusulkan sejak zaman Gubernur Rudi Ariffin, sampai beberapa wali kota. Tapi jawabannya selalu sama, bahwa pemerintah tak punya anggaran untuk membelinya,” katanya.

Baginya, untuk sebuah bangunan yang sarat sejarah, pemda semestinya bisa berupaya lebih. “Saat itu harganya sekitar Rp12 miliar, tapi pemda tak menyanggupi,” sebutnya.

Rico enggan menyalahkan pemilik yang sekarang. Perobohan itu menurutnya adalah hak si pemilik. “Tapi sekali lagi, saya kecewa, mengapa pemerintah tak bisa menyelamatkannya,” tambahnya.

“Bahkan teman saya di Bandung dan Amerika juga protes, mengapa rumah itu seakan dibiarkan pemerintah. Mereka heran saja,” tuntasnya.

Sementara dari kacamata budayawan Benyamin HE, tak disangsikan lagi, rumah tersebut adalah bagian dari sejarah Banjarbaru.

“Van Der Pijl memang bukan bapak pendiri kota, tapi dia adalah bapak perancang. Bagaimana pun, dia adalah sosok penting dalam sejarah Banjarbaru,” tegasnya. 

Soal penghancuran rumah ini, pantas dijadikan catatan ke sekian. Sebab ini bukan kasus yang pertama.

Bagi Ben, demikian sapaan akrabnya, idealnya pemko bisa melindungi saksi-saksi bisu sejarah kota ini.

Perihal ketidaksanggupan pemko, Ben juga turut mengomentarinya. “Katanya harganya terlalu mahal. Tapi kalau melihat nilai sejarahnya, semestinya harga tinggi tak menjadi persoalan,” lanjutnya.

Berkaca dari kasus ini, ke depan ia berharap pemko bisa menginventarisir aset-aset bersejarah di Banjarbaru.

Bahkan, meski kepemilikannya sudah berpindah tangan, harus diupayakan untuk membelinya dan menjadikannya sebagai aset.

“Saya malah mengapresiasi kafe-kafe yang masih mempertahankan bentuk rumah dengan gaya kolonialnya. Ini secara tak langsung turut dalam kerja pelestarian,” katanya.

Ben kini berharap agar pemko menjaga yang tersisa. “Di sekitar Lapangan Murjani ada beberapa aset pemerintah, contoh kantor Disporabudpar, itu juga peninggalan bersejarah. Nah, minimal kantor-kantor ini jangan dirubah bentuknya, tetap dipertahankan,” pungkasnya. (rvn/gr/fud)