Rumah bergaya kolonial di Jalan Ahmad Yani km 35 seberang Taman Bougenville itu sudah tak berbentuk lagi. Hanya tersisa puing-puing.

Rumah ini dulunya dihuni Van der Pijl, arsitek asal Belanda yang digandeng Gubernur Dr Murjani untuk merancang Kota Banjarbaru.

Setelah berpindah-pindah tangan, pemilik baru rumah VDP ini masih misterius. Kabarnya seorang pengusaha lokal.

“Ada yang bilang mau dibangun ritel, ada juga yang mengatakan hendak dibangun ruko. Pokoknya orientasinya untuk bisnis. Karena lokasinya kan strategis,” kata sumber anonim Radar Banjarmasin. 

Bahkan, pemko juga tak mengetahui, bakal dijadikan apa lahan rumah tersebut.

Dua dinas yang berkaitan dengan perizinan bangunan, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) maupun Dinas Pertamanan dan Pemukiman (Disperkim) ternyata tidak mengetahui alasan di balik pembongkaran rumah tersebut.

Radar Banjarmasin coba bertanya kepada para tukang di lokasi. Disambangi kemarin (21/9) siang, mereka berlima tengah merobohkan salah satu dinding rumah.

Salah seorang tukang bercerita, dia diminta menegur orang-orang yang hendak memotret atau memvideo di area halaman rumah.

“Silakan saja kalau mau mengambil foto, tapi dari luar pagar. Demikian instruksi dari pemborong. Kami di sini cuma bertugas membongkar saja,” ujarnya.

Yang ia dengar, si pemilik merasa terpojok oleh ramainya pemberitaan di media. Hingga ia enggan muncul ke tengah publik.

Siapa pemilik baru rumah ini? Dia juga tak berkenan memberikan identitasnya, “Saya tidak berani. Saya juga tak begitu mengenal, takut salah sebut.”

Begitu pula ketika disinggung hendak dibangun apa di sana, lagi-lagi dia menggelengkan kepala. “Kami hanya membongkar, yang membangun nanti tim yang berbeda,” jelasnya. 

Setahunya, antara pemilik rumah VDP dengan pemko sebenarnya sudah ada pembicaraan. “Tapi tidak ada titik temu, akhirnya ya dibongkar,” ujarnya.

Di lain pihak, kabarnya seorang staf khusus Wali Kota Banjarbaru sempat mendatangi lokasi pembongkaran rumah.

Dia juga sempat mengamankan beberapa bagian dari rumah tersebut. Siapa? Ternyata Khairil, staf pribadi Wali Kota Aditya Mufti Ariffin.

Ketika dikonfirmasi, Khairil tak menampiknya. Dia membenarkan bahwa wali kota menyuruhnya untuk menyelamatkan bagian-bagian yang masih orisinal dari rumah VDP.

“Benar, ini upaya kecil dan nyata yang bisa kami lakukan,” kata Iril, sapaan akrabnya. “Karena untuk menyelamatkan seluruh tanah dan bangunan sudah tidak memungkinkan lagi,” sambungnya.

Ada belasan pintu dan jendela yang berhasil diamankan. Diangkut pada Selasa (20/9) sore dengan mobil pikap.

“Sekarang berada di tempat yang aman, dijaga dengan baik. Selain mengamankan pintu, jendela dan kusennya, kami juga diminta pak wali kota untuk mendokumentasikan detil rumah. Termasuk menggambar denah di dalamnya,” bebernya.

Ditanya buat apa, Iril mengaku belum tahu. “Bisa jadi pada masa mendatang pemko hendak membangun museum atau galeri. Bangunannya mungkin persis seperti rumah VDP. Menggunakan pintu dan jendela asli ini,” duganya.

Dia juga berterima kasih kepada pemilik rumah, pemborong dan tukang yang menyerahkan belasan pintu dan jendela tersebut tanpa meminta ganti sepeser pun.

Sementara itu, Anggota DPRD Banjarbaru, Ronauli menyayangkan pembongkaran rumah VPD.

Sebagai kolektor barang antik yang tinggal di Banjarbaru selama setengah abad, Ronauli paham betul arti dan nilai rumah itu. “Rumah itu benar-benar ditinggali Van der Pijl sampai akhir hayatnya,” sesal politisi PDI Perjuangan ini. 

Karena nasi sudah menjadi bubur, dia meminta pemko fokus pada langkah ke depan. Diingatkannya, belum ada perda untuk melindungi aset-aset bersejarah di kota ini.

Dia tak ingin pemko kembali kecolongan, “Harus ada payung hukum, semisal perda cagar budaya. Selama ini kan tidak ada. Akhirnya ketika ada kejadian begini, pemko tidak bisa apa-apa.”

Manfaat dari perda itu akan dirasakan oleh generasi berikutnya. “Perda ini bisa melindungi orisinalitas bangunannya. Andaikan sudah berganti pemilik, perda itu menjadi rambu. Memaksa pemilik untuk menjaga bentuk asli bangunannya,” jelasnya.

Dia juga menyentil pemko yang tidak memiliki arsip terkait sejarah Banjarbaru. “Malah seperti foto-foto lama Banjarbaru itu diarsipkan oleh orang luar, disimpan secara personal. Nah, harusnya kan yang peduli itu pemerintahnya,” tegasnya.

Ucok, sapaan akrabnya, kemudian membuat perbandingan dengan kota tetangga. Di Kalteng, aset-aset peninggalan Van der Pijl terawat dengan apik. Sebagai informasi, selain merancang Banjarbaru, Van der Pijl juga pernah merancang Palangka Raya.

“Contoh nyata adalah rumah Tjilik Riwut. Meski sudah menjadi restoran, tapi bentuk aslinya tetap dijaga. Bahkan benda-benda peninggalan Van der Pijl dipajang dan dijaga,” kisahnya.

Maka Ucok menyarankan, sudah saatnya pemko lebih serius. “Jika tidak dimulai dari sekarang, maka akan semakin terlupakan. Mumpung usia kota ini belum terlalu tua,” pungkasnya. (rvn/gr/fud)