Sangat disayangkan, laga panas Peseban Banjarmasin versus Talenta Banua diwarnai insiden tercela. Beberapa menit seusai pertandingan di Lapangan Green Yakin, Kabupaten Banjar pada Rabu (21/9) sore itu, muncul keributan di tribun.

Dikira keributan antar suporter, ternyata terjadi tindak kekerasan dari ofisial tim tamu kepada seorang pemain tuan rumah. Korbannya adalah Helmi Sandi. Menurut Midun, sapaan akrab pemain itu, sejak awal laga ia sudah menerima intimidasi dari bangku cadangan lawan. Banyak kata-kata umpatan yang diarahkan kepadanya.

“Mereka selalu berkata kasar kepada saya, hingga bernada rasis. Saya pun awalnya hanya merespons dengan mengacungkan jempol tanpa berkata-kata,” ungkapnya. 

Namun, terus dimaki sepanjang laga, kesabarannya toh akhirnya habis. “Karena jengkel, saya sempat meludah di rumput sekitar bench mereka. Karena kata-kata rasis itu,” tuturnya. Begitu laga berakhir, ia sempat menolak bersalaman dengan lawan. Setiba di tribun, ia beralih ke ruang ganti. 

“Tapi tiba-tiba saja saya dihantam dari belakang menggunakan ember es oleh salah satu kitman Talenta Banua. Refleks saya menangkis. Hingga ada satu asisten pelatih yang menghampiri, kami mulai adu argumen di situ,” kisahnya.

Untuk mencari tahu kebenarannya, Radar Banjarmasin mengkonfirmasi pengelola lapangan, kemarin (22/9) siang. Manajer Green Yakin, Muhammad Indra mengatakan, dia tidak berada di tempat kejadian perkara (TKP).

“Setelah melihat rekaman CCTV, tanpa melebihkan dan mengurangi informasi, memang terjadi gesekan antara ofisial BBG (Talenta Banua) dan salah seorang pemain Peseban, yakni Bang Midun,” bebernya.

Kejadiannya berlangsung cepat. Beruntung supervisor lapangan, Yasir dengan cekatan datang untuk melerai. “Dari rekaman CCTV terlihat salah seorang memukulkan ember berwarna biru ke Bang Midun,” tegasnya.

Setelah melihat rekaman CCTV, asisten pelatih Peseban, Ana Supriatna pun menjadi yakin. “Kami nggak salah. Pemain mau ganti baju tiba-tiba diserang. Kami sudah tahu siapa orangnya. Di video rekaman CCTV yang saya pegang terlihat dengan jelas,” ujarnya. 

“Mungkin berita yang beredar di luar mengatakan Peseban ribut-ribut. Itu tidak benar. Akan ada mediasi terlebih dahulu antara kedua belah pihak,” ujarnya.

Atas kejadian memalukan ini, manajer Talenta Banua, Pujo Dewanto turut menyesalkannya. “Kejadian memalukan ini, sangat disayangkan bisa terjadi. Nanti semua elemen tim akan menerima teguran. Harapannya, semoga ada perbaikan dan tidak terulang di kemudian hari,” ujarnya.

“Tentu saja, siapa yang tidak malu dengan kejadian ini. Kami datang dengan tujuan hendak memajukan sepak bola Banua,” sambungnya.

Sedangkan Sekretaris Asprov PSSI Kalsel, Baktiansyah mengaku tidak tahu. Alasannya, sampai saat ini tidak ada laporan yang masuk dari pengawas pertandingan.

Baik mengenai dugaan rasisme atau kekerasan di luar lapangan. “Tidak tahu, tidak ada laporan yang masuk sampai sekarang,” ujarnya.

Perlu diketahui, laga kedua di Grup B ini berakhir seri 1-1. (bir/gr/fud)