Banjir yang melanda Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) kian meluas. Dampaknya, sejak Senin (21/11) sekolah-sekolah ditutup. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan HSU pun meminta guru dan siswa kembali belajar daring (online). 

“Jadi bukan diliburkan, tapi meniadakan belajar tatap muka. Guru mengajar dari rumah, baik tingkat SD maupun SMP,” kata Kepala Disdikbud HSU, Jumadi melalui sekretarisnya Ahadi Ilhami.

Banjir berdampak pada SDN Kaludan Luar di Kecamatan Banjar. Selanjutnya di SDN Sungai Malang 4 di Kecamatan Amuntai Tengah. Lalu SDN Pekapuran, SDN Padang Besar Hulu, dan SDN Cakru di Kecamatan Amuntai Utara.

Ada juga SDN Kayakah, SMPN 3 Amuntai Selatan, TK Harapan Fajar, SDN Cangkring, dan SDN Rantau Bujur Tengah di Kecamatan Amuntai Selatan.

“Ada pula satu SMP swasta, yakni SMP II MS Banjang yang turut terendam banjir,” sebut Ahadi. Dani, orang tua siswa SDN 4 Sungai Malang, mendukung kebijakan ini. “Takut anak-anak bermain air di sekolah. Bisa berbahaya,” ujarnya. 

“Jadi sudah pas Disdikbud mengeluarkan kebijakan belajar daring ini,” tambah ibu dua anak itu. Separah apa banjirnya? Kepala SMPN 3 di Kecamatan Amuntai Selatan, Yusran menceritakan, sudah tiga hari sekolahnya terendam banjir. “Semakin dalam (tinggi) airnya. Kini guru-guru kami bekerja dari rumah. Mudah-mudahan lekas surut agar pembelajaran siswa kembali normal,” ujarnya.

Pantauan Radar Banjarmasin, kantor bupati di Jalan Ahmad Yani, Amuntai Tengah juga sudah tergenang. Tingginya sekitar 30 sentimeter.

Genangan sudah memasuki halaman depan Rumah Sakit Pembalah Batung, kantor Bappelitbang, Dinas Pertanian, Inspektorat, dan kantor BKPSDM.

Salah seorang pegawai pemkab, Anisah mengaku terkejut melihat beberapa ruang kantor sudah kemasukan air.

“Jumat kemarin, airnya belum masuk kantor. Tapi hari ini sudah masuk ruang kerja,” ujarnya.

Untungnya, sebelum libur akhir pekan, berkas penting dan peralatan elektronik sudah dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi.

Diwartakan sebelumnya, Sungai Balangan, Sungai Nagara dan Sungai Tabalong di Banua Anam meluap setelah diguyur hujan berhari-hari.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HSU mencatat, sebanyak 2.561 rumah dan jalan sepanjang 8 kilometer terendam banjir.

Banjir merugikan 3.017 keluarga. Bahkan dilaporkan sepuluh keluarga terpaksa mengungsi.

Mulai Surut

Masih di Banua Anam, pantauan kemarin (21/11), banjir di Kabupaten Tabalong mulai surut.

Meski demikian, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabalong, Zahirsyah Manuar meminta masyarakat tetap waspada.

Sebab debit air Sungai Tabalong masih tinggi. Rawan meluap dan kembali membanjiri permukiman di bantaran sungai.

Apalagi, hujan masih sesekali turun. “Karena masih hujan, walaupun tidak sederas kemarin. Jadi warga diminta tetap waspada,” ujarnya. (mar/ibn/gr/fud)