Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis nilai ekspor dan impor selama Oktober 2022. Dalam rilis itu diketahui, nilai ekspor naik 6,31 persen dan impor naik 2,39 persen. Nilai ekspor Kalsel pada bulan itu tercatat USD1,57 miliar. Sementara nilai impor, USD197,09 juta. 

Kepala BPS Kalsel, Yos Rusdiansyah mengatakan, kelompok barang yang paling banyak menyumbang ekspor adalah bahan bakar mineral senilai USD1,38 miliar. “Nilai tersebut mengalami kenaikan sebesar 4,93 persen dibanding ekspor bulan September 2022 yang sebesar USD1,31 miliar,” katanya (21/11).

Pada urutan kedua ada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati yang menyumbang ekspor sebesar USD143,03 juta.  “Ini juga naik, yakni sebesar 19,70 persen dibandingkan ekspor bulan sebelumnya,” ujar Yos.

Pada urutan ketiga, kelompok berbagai produk kimia dengan nilai ekspor USD14,31 juta. Naik sebesar 53,84 persen dibandingkan September 2022 yang sebesar USD9,30 juta. 

Ia menyebut, jika dilihat menurut negara tujuan utama, tujuan ekspor paling banyak ke Tiongkok, yaitu sebesar USD609,09 juta. “Nilai ekspor tersebut mengalami kenaikan sebesar 2,90 persen dibanding ekspor September 2022 yang mencapai USD591,92 juta,” sebutnya.

Kemudian di urutan berikutnya ekspor ke India sebesar USD228,98 juta yang mengalami kenaikan 61,80 persen. “Berikutnya ekspor ke Jepang sebesar USD178,28 juta. Naik 14,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” papar Yos.

Beralih ke impor, Yos menyebut, tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi yakni bahan bakar mineral sebesar USD 178,37 juta. Kemudian kelompok mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, USD6,84 juta. “Disusul kelompok pupuk USD6,12 juta,” sebutnya.

Menurut negara asal, impor tertinggi dari Korea Selatan dengan nilai USD113,04 juta, yang naik 54,60 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kemudian diikuti impor dari Malaysia yang mencapai USD59,00 juta dan dari Singapura dengan nilai USD12,98 juta. 

Dari data-data nilai eskpor dan impor, Yos menuturkan neraca perdagangan ekspor impor Kalsel, Oktober 2022 menunjukkan nilai positif. Yaitu surplus sebesar USD1,37 miliar.

“Nilai tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan neraca perdagangan pada September 2022 lalu yang surplus sebesar USD1,28 miliar,” tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani membenarkan kenaikan nilai impor dan ekspor tersebut. “Ini karena nilai ekspor dan impor sejumlah kelompok mengalami kenaikan,” ucapnya.

Menurutnya, ekspor batu bara dan kelapa sawit berpeluang naik lagi karena beberapa negara melirik Indonesia sebagai sumber importir bagi negeri mereka. (ris/gr/fud)