Menjadi lapangan sepak bola terbesar di Kalimantan Selatan, Stadion 17 Mei nyatanya tidak sanggup memenuhi standar FIFA.

 

BANJARMASIN – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel, Ahmad Solhan mengatakan, stadion di Jalan Jafri Zamzam, Banjarmasin Tengah itu tidak bisa memenuhi standar internasional lantaran keberadaan lintasan larinya.  Lintasan atletik itu tidak bisa dihilangkan, karena stadion ini menjadi wadah bernaungnya Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kalsel.

“Kalau lintasan larinya dihilangkan, kasihan mereka tidak punya wadah lagi untuk berlatih,” katanya kepada Radar Banjarmasin (25/11). Persoalan lain, FIFA juga menuntut adanya areal bebas di luar tribun penonton. Sementara Stadion 17 Mei berdempetan dengan permukiman padat. 

“Tidak bisa diakomodir 17 Mei karena kendala lahan di tengah perkotaan,” ucapnya. Lalu apakah ada rencana membangun stadion baru yang berstandar internasional? Solhan menegaskan, hingga kini rencana itu belum ada. “Kami masih fokus menyelesaikan renovasi 17 Mei,” jawabnya.

Stadion 17 Mei merupakan kandang klub Liga 1, Barito Putera. Selama direnovasi, Laskar Antasari pindah ke Stadion Demang Lehman di Martapura. Kepala Seksi Tata Bangunan, Robby Cahyadi menambahkan, renovasi mencakup pengerjaan tribun Inggris, tribun belakang tiang gawang dan lintasan lari. 

“Untuk tribun tengah terbuka dikerjakan strukturnya dulu, tinggal tahun depan untuk penyelesaian dan penyempurnaan dengan konsep modern,” ujarnya. Anggaran yang dikucurkan tahun ini mencapai Rp17,2 miliar. 

Robby menyebut, renovasi pada 2022 ini merupakan proyek tahap ketiga. Dimulai sejak 2019, saat itu digarap Dinas Pemuda dan Olahraga. Kemudian dioper ke PUPR.

PUPR menargetkan, renovasi di dalam stadion rampung pada 2023. Setelah itu, tahun berikutnya fokus pada perbaikan di luar stadion. “Kawasan parkir dan pagar stadion belum direnovasi, 2024 mendatang fokusnya ke sana,” pungkasnya. (ris/gr/fud)